Uji coba yang dilakukan oleh Tiongkok menunjukkan bahwa obat itu tidak berhasil menyembuhkan pasien COVID-19. Hal ini juga dilaporkan dalam dokumen yang sempat dirilis oleh WHO.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 24 April 2020 - 09:41 WIB
WowKeren - Uji coba pertama terhadap Remdesivir, obat anti-virus yang dinilai potensial untuk mengobati infeksi virus corona (COVID-19) dilaporkan gagal. Padahal sebelumnya, jenis obat ini diyakini efektif untuk mengatasi penyakit yang menjadi pandemi global tersebut.
Dilansir The Guardian pada Jumat (24/4), uji coba yang dilakukan oleh Tiongkok menunjukkan bahwa obat itu tidak berhasil menyembuhkan pasien COVID-19. Hal ini juga dilaporkan dalam dokumen yang sempat dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Dikatakan bahwa Remdesivir tidak memperbaiki kondisi pasien COVID-19. Bahkan obat ini dalam uji coba pertamanya tidak mampu mengurangi patogen virus dalam aliran darah.
Atas hal ini, perusahaan asal Amerika Serikat yang membuat Remdesivir, Gilead, mengatakan bahwa dokumen WHO tersebut salah menafsirkan studi yang dilakukan. Kegagalan uji coba menyebar setelah organisasi mengunggah rincian tentang database uji klinis.
"Kami percaya unggahan itu memasukkan karakterisasi studi yang tidak sesuai. Dengan demikian, hasil penelitian tidak dapat disimpulkan, meskipun tren dalam data menunjukkan manfaat potensial untuk Remdesivir, terutama di antara pasien yang diobati pada awal penyakit,” ujar juru bicara Gilead.
Namun, WHO kini telah menghapus unggahan mengenai kegagalan uji klinis. Dalam studi yang dilakukan terkait efektivitas Remdesivir, para peneliti mempelajari 237 pasien, memberikan obat ini ke 158 orang dan membandingkan kondisi mereka dengan 79 lainnya, yang menerima pengobatan dengan plasebo.
Setelah satu bulan, sebanyak 13,9 persen dari pasien yang menggunakan Remdesivir meninggal, dibandingkan dengan 12,8 persen dari yang menerima plasebo. Percobaan obat ini kemudian dihentikan lebih awal karena efek samping dilaporkan. "Remdesivir tidak dikaitkan dengan manfaat klinis atau virologi," tulis ringkasan studi.
Kendati demikian, hal ini tidak berarti akhir dari potensi Remdesivir untuk mengobati COVID-19. Beberapa uji coba yang berkelanjutan akan dilakukan dan diharapkan memberikan gambaran lebih jelas tentang penggunaan obat.
Sementara itu, WHO mengimbau pada seluruh masyarakat dunia untuk tetap berhati-hati terhadap virus ini hingga vaksinnya ditemukan. Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahkan mengklaim bahwa virus ini masih akan bertahan lama dan tak bisa berakhir dalam waktu dekat. "Jangan salah. Kita masih harus menempuh jalan panjang. Virus ini akan bersama kita untuk waktu yang lama," ujarnya.
Hal tersebut lantaran sebagian besar negara di dunia masih berada dalam tahap awal pandemi, sementara beberapa negara lainnya mulai bangkit dari wabah ini. "Sebagian besar negara masih dalam tahap awal dan beberapa yang terdampak awal pandemi mulai melihat kebangkitan dalam kasus-kasus," tuturnya, dalam pernyataan resminya pada Rabu (22/4) waktu setempat.
Saat ini, terdapat lebih dari 2,7 juta kasus COVID-19 di seluruh dunia. Korban meninggal akibat virus tersebut telah melampaui angka 190 ribu jiwa, dengan pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 745,620.
(wk/luth)