WHO menilai dunia berpotensi 'diterjang' gelombang kedua dan seterusnya dari wabah virus Corona. Pasalnya hingga kini vaksin penangkal virus itu belum berhasil dikembangkan.
- Elvariza Opita
- Sabtu, 02 Mei 2020 - 00:30 WIB
WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus memberikan perkembangan terkini terkait pandemi virus Corona. Salah satunya peringatan agar negara-negara dunia tak boleh terlena dengan kondisi kekinian dan mempersiapkan potensi terjadinya gelombang kedua dan seterusnya dari wabah COVID-19.
"COVID-19 tak akan pergi dalam waktu dekat," tegas Dr Hans Kluge selaku Kepala WHO Area Eropa, seperti dilansir dari Independent, Sabtu (2/5). Ia menilai saat ini banyak wilayah, Eropa misalnya, sudah bisa mengendalikan wabah, namun potensi terjadinya gelombang dua dan seterusnya masih sangat besar.
Lantas yang menjadi pertanyaan, sebenarnya seperti apakah gelombang kedua virus Corona itu? Menanggapi kebingungan itu, epidemiolog Indonesia kandidat doktor dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, pun memberikan jawabannya.
Menurut Dicky, pandemi COVID-19 sangat berpotensi terjadi dalam beberapa gelombang serangan wabah. Gelombang seperti itu pun tak memandang lokasi, bisa saja terjadi di berbagai sudut dunia, termasuk Indonesia.
Gelombang kedua virus Corona ini sendiri terjadi bila suatu wilayah telah mencapai puncak wabah lalu mengalami penurunan dalam jumlah kasus, namun kemudian terjadi lonjakan kasus lagi. Sedangkan puncak kasus yang dimaksud di sini apabila attack rate atau tingkat serangan virusnya sudah mencapai 3-10 persen dari total jumlah penduduk, bila merujuk pada data di Wuhan, Tiongkok.
Namun fakta mengerikannya, gelombang kedua akan terjadi dengan menyerang sejumlah besar warga yang belum terpapar virus di gelombang pertama wabah. "Gelombang kedua biasanya menyerang hingga 90 persen penduduk yang belum terpapar tadi," jelas Dicky, seperti dikutip dari Kompas, Sabtu (2/5).
Lebih lanjut, ada jeda yang cukup jauh antara puncak gelombang pertama wabah dengan gelombang kedua. Bahkan jaraknya bisa mencapai sebulan atau lebih.
Dicky lantas mencontohkan dengan situasi di Tiongkok yang sempat dibuat ketar-ketir dengan datangnya gelombang kedua COVID-19. Kala itu ada jeda sekitar sebulan sejak Tiongkok merasa wabah sudah berhasil dikendalikan.
Gelombang kedua ini terjadi karena adanya orang dari luar wilayah atau negara yang membawa virus. Orang berstatus import case itu kemudian menularkan virusnya ke populasi lainnya dan menciptakan kembali transmisi lokal.
WHO sendiri mengingatkan wabah akan terus terjadi apabila vaksin penangkalnya belum bisa ditemukan. Oleh karenanya saat ini WHO meminta agar masyarakat tetap aktif mengikuti protokol kesehatan yang berlaku sembari menanti vaksin yang masih dalam tahap pengembangan.
(wk/elva)