16 Ribu Sukarelawan Rela Diinfeksi Corona, Ekstrem Tapi Efektif Percepat Vaksin?
China Daily
Dunia
Pandemi Virus Corona

Puluhan ribu sukarelawan telah mendaftar dan siap untuk diinfeksi virus corona. Lantas apakah cara ekstrem ini efektif dalam mempercepat terciptanya vaksin COVID-19?

WowKeren - Pengembangan vaksin virus corona (COVID-19) masih terus dilakukan di berbagai negara. Bahkan, cara ekstrem pun harus ditempuh demi menciptakan dan mempercepat produksi vaksin corona.

Salah satunya adalah dengan mengumpulkan orang-orang secara sukarela agar mau diinfeksi virus corona. Hal ini dilakukan oleh situs 1 Day Sooner yang bekerja mengumpulkan para sukarelawan dengan tujuan mempercepat penemuan vaksin COVID-19.

Hingga saat ini, situs 1 Day Sooner telah berhasil mengumpulkan 16.213 yang bersedia diberi virus corona. Orang-orang tersebut diketahui berasal dari 102 negara dunia.

Situs 1 Day Sooner memberi nama metode ini dengan nama Human Challenge Trial (HCT) atau tantangan uji coba tantangan manusia. Metode ini cukup kontroversial karena menguji vaksin dengan sengaja menginfeksi orang dengan virus SARS-CoV-2 yang telah membunuh lebih ratusan ribu orang di seluruh dunia.

Belajar dari sejarah pandemi yang pernah terjadi di masa lalu, diketahui membutuhkan lebih dari satu dekade sampai vaksin akhirnya berhasil dikembangkan dan diuji. Hal ini membuat sejumlah ahli epidemiologi menyarankan cara ekstrem melalui metode HTC agar bisa berlomba dengan waktu sehingga vaksin segera ditemukan.

Direktur Population-Level Bioethics di Rutgers University, Nir Eyal dan rekan penulisnya memprediksikan bahwa dengan desain yang cermat dan persetujuan pemerintah, metode vaksin dapat ditemukan berbulan-bulan lebih cepat. Kecepatan saat ini begitu krusial demi menyelamatkan ribuan nyawa.


Nir menjelaskan jika percepatan penemuan hari 1 hari bisa menyelamatkan 7,1 ribu nyawa, 1 minggu menyelamatkan 55 ribu nyawa, 1 bulan menyelamatkan 220 ribu nyawa, dan 3 bulan bisa menyelamatkan setengah juta nyawa. Kini, metode ini telah disetujui oleh beberapa politisi.

Nantinya, vaksin akan dibuat di laboratorium dan dikembangkan melalui kombinasi evaluasi pra-klinis dan tiga fase uji klinis vaksin yang menguji keamanan dan kemanjurannya. Fase uji klinis HCT disebutkan sama dengan uji klinis standar.

Namun, sukarelawan yang berada di fase III HCT akan diisolasi dan diamati. Sementara sukarelawan HCT yang mengikuti uji klinis standar akan dipulangkan ke rumah masing-masing.

Selanjutnya, sukarelawan HCT akan menerima kandidat vaksin tersebut (plasebo). Setelah vaksin mulai bekerja, sukarelawan akan dipaparkan virus SARS-CoV-2. Mereka juga akan diisolasi dan akan mendapatkan pengobatan terbaik yang ada apabila menimbulkan gejala.

Sementara itu, fase III uji standar yang memulangkan sukarelawan ke rumah masing-masing bertujuan untuk menguji efektivitas vaksin di dunia nyata. Vaksin dalam tahap ini biasanya membutuhkan pelacakan hingga puluhan ribu orang untuk melihat siapa yang terinfeksi dalam kehidupan sehari-hari mereka, kadang-kadang selama beberapa tahun.

Pandemi virus corona (COVID-19) saat ini telah menjadi momok yang begitu menakutkan di dunia. Berdasarkan data dari badan statistik Worldometers hingga Senin (18/5) siang, telah ada lebih dari 4,8 juta kasus COVID-19. Sebanyak 316.703 orang meninggal dunia dan 1.858.754 pasien dinyatakan sembuh dari COVID-19.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts