Respons Soal Ajakan Damai, Presiden Tiongkok Xi Jinping Tegaskan Tak Akui Kedaulatan Taiwan
Dunia
Pandemi Virus Corona

Tiongkok menganggap Taiwan sebagai wilayah mereka dan bersumpah akan merebut, meski dengan kekerasan, terutama jika negara itu mendeklarasikan kemerdekaan.

WowKeren - Beijing menyatakan tidak pernah mentolerir pemisahan Taiwan dari Tiongkok. Hal itu diungkapkan Juru Bicara Kantor Urusan Taiwan-Tiongkok, Ma Xiaoguang, sebagai respons atas pidato pelantikan Tsai Ing-wen selaku Presiden Taiwan periode kedua.

Dalam keterangan juru bicara tersebut, diungkap bahwa Tiongkok menganggap Taiwan sebagai wilayah mereka dan bersumpah akan merebut, meski dengan kekerasan, terutama jika negara itu mendeklarasikan kemerdekaan. Menurut Ma, Tiongkok memiliki kemampuan yang memadai untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas wilayah.


"Beijing tidak pernah mentolerir kegiatan separatis atau kekuatan eksternal yang mengganggu politik dalam nengeri Tiongkok," kata Ma seperti dilaporkan kantor berita pemerintah Xinhua, dikutip dari CNN pada Kamis (21/5).

Ma mengatakan Tiongkok bersedia membuka jalan untuk penyatuan kembali dengan Taiwan secara damai. Tetapi dia menegaskan mengecam segala bentuk kegiatan separatis. "Tiongkok akan mematuhi prinsip penyatuan kembali secara damai dan Satu Negara, Dua Sistem," ujarnya menambahkan.

Di sisi lain, pernyataan tersebut keluar setelah Tsai Ing-wen resmi dilantik untuk menjadi Presiden Taiwan di periode kedua pada Rabu (20/5) waktu setempat. Dalam pidato pelantikan, Tsai menegaskan bahwa wilayahnya tidak akan menjadi bagian dari Tiongkok dan dengan tegas menolak klaim kedaulatan negeri Tirai Bambu tersebut atas Taiwan.

Tsai lantas mengatakan bahwa Beijing seharusnya mencari cara untuk bisa hidup damai berdampingan dengan Taiwan. Presiden wanita tersebut juga membuka kembali peluang dialog dengan Tiongkok, dan meminta Presiden Xi Jinping mau bekerja sama guna mengurangi ketegangan.

"Kedua belah pihak harus mencari cara untuk hidup berdampingan dalam jangka panjang serta mencegah permusuhan dan perbedaan," kata Tsai seperti dikutip dari Reuters.

Wanita 63 tahun itu kembali memenangkan pemilihan Presiden pada Januari. Selama masa kampanye, dia menyatakan akan melawan Tiongkok yang menganggap bahwa Taipei merupakan bagian dari negaranya dan akan menggunakan kekuatan untuk membuatnya tunduk pada pemerintahan Beijing.

"Di sini, saya ingin mengulangi kata-kata 'perdamaian, keseimbangan, demokrasi, dan dialog'. Kami tidak akan menerima tawaran Beijing soal 'satu negara, dua sistem' untuk menurunkan martabat Taiwan dan merusak status quo. Kami berdiri teguh dengan prinsip ini,” kata Tsai.

Beijing diketahui menggunakan kebijakan "satu negara, dua sistem", yang seharusnya menjamin otonomi tingkat tinggi. Konsep ini diterapkan pada bekas koloni Inggris, yakni Makau serta Hong Kong yang kembali ke pemerintahan Tiongkok pada tahun 1999. Tiongkok telah menawarkan kesempatan sama ke Taiwan, meskipun semua partai-partai besar Taiwan telah menolaknya.

Tiongkok sendiri selalu memandang Tsai sebagai separatis yang berusaha untuk memerdekakan Taiwan. Tsai mengatakan, Taiwan adalah negara merdeka yang tidak ingin menjadi bagian dari Tiongkok.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts