Inovasi 'Sajadah Covid' Selamatkan Pengusaha Batik Lasem dari Bangkrut
SerbaSerbi
COVID-19 di Indonesia

Pengusaha Batik Lasem bekerja sama dengan desainer Didiet Maulana menghadirkan inovasi baru berupa 'Sajadah Covid' yang terdiri dari dua varian warna, yakni merah dan biru.

WowKeren - Pandemi COVID-19 berdampak kuat pada berbagai sektor kehidupan, termasuk Usaha Kecil Menengah (UKM). Dampak tersebut turut dirasakan pengusaha batik di kota kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Berbagai cara dilakukan pengusaha, salah satunya dengan membuat pasar daring bernama "Pasar Rakyat Lasem".

Selain itu, para pengusaha batik juga berusaha membuat inovasi menarik agar produknya tetap diminati. Seperti yang dibuat oleh Ekawatiningsih (50), pengusaha yang menjalankan Rumah Batik Lumintu. Inovasi tersebut berupa "Sajadah Covid".


Penamaan sajadah tersebut tentu berkaitan dengan kondisi diciptakannya yakni saat pandemi COVID-19. Sajadah Covid sendiri merupakan batik tulis bermotif gunung ringgit yang memiliki dua varian warna, yakni merah dan biru. Berkat Sajadah Covid, Eka mengaku tak sampai meliburkan para pegawainya.

"Mungkin hanya bisa masuk seminggu sekali," ujar Eka mengenang awal mula kesulitan bisnisnya hingga memutuskan membuat sajadah berbahan dasar kain batik tulis, seperti dikutip dari Nationalgeographic.grid.id.

Meski inovasi sajadah dari kain batik sudah pernah ada sebelumnya, Sajadah Covid tetap mendapat sambutan positif. Sejumlah pesanan telah masuk sehingga pegawai Eka yang berjumlah 9 orang tak jadi dirumahkan. Eka juga berkolaborasi dengan salah satu desainer kondang Tanah Air, Didiet Maulana.

"Ini juga kolaborasi dengan Kesengsem Lasem dan Didiet Maulana (IKAT Indonesia) untuk membuat mukenanya," ungkap Eka. Didiet juga merupakan penasihat Yayasan Lasem Heritage yang sudah lama tertarik dengan kain batik Lasem.

Menurut Didiet, transformasi kain batik menjadi sajadah dan mukena sesuai dengan kebutuhan masyarakat di bulan Ramadan serta hari raya Idul Fitri seperti sekarang. "Saatnya orang untuk mengirimkan bingkisan untuk orang lain atau mereka ingin pakai. Karena untuk survive kita harus selaras dengan apa yang dibutuhkan orang-orang," ungkap Didiet.

Selanjutnya, Didiet akan mengembangkan kain batik Lasem menjadi produk turunan seperti busana yang lebih banyak digunakan masyarakat. "Ini memberikan inspirasi dan ide tidak hanya mengaktifkan para pembatik tetapi juga para penjahit rumahan di Lasem," pungkas Didiet.

(wk/nere)

You can share this post!

Related Posts