Tak Hanya Anak-anak, 'Sindrom Kawasaki' Kini Jangkiti Pasien COVID-19 Usia 20-an
Dunia
Pandemi Virus Corona

Baru-baru ini gejala serupa sindrom Kawasaki dialami oleh pasien COVID-19 dewasa muda atau awal usia 20-an. Padahal sebelumnya, gejalan tersebut hanya dialami oleh anak-anak saja.

WowKeren - Anak-anak di sejumlah negara seperti London dan New York yang terinfeksi virus corona (COVID-19) diketahui menunjukkan gejala yang serupa dengan sindrom Kawasaki. Sindrom Kawasaki atau sindrom getah bening adalah adalah penyakit langka yang umumnya menyerang anak-anak dan dapat menyebabkan kematian.

Sindrom Kawasaki mengakibatkan inflamasi atau peradangan pada dinding arteri dan bisa membatasi aliran darah ke jantung. Gejalanya demam selama lebih dari 5 hari, jaringan leher bengkak, bibir pecah, kaki dan tangan bengkak juga kemerahan pada mata.


Namun, baru-baru ini dilaporkan sindrom serupa juga turut dialami oleh para pasien COVID-19 dewasa muda atau yang berusia awal 20-an. Dilansir Live Science, Dokter telah mendiagnosa sindrom tersebut pada pasien COVID-19 berusia 20 tahun di San Diego dan pasien berusia 25 tahun di Long Island, New York.

Beberapa kasus tambahan juga dilaporkan terjadi pada pasien di awal usia 20-an yang berada di rumah sakit di New York University's Langone Medical Center di New York. Pada anak-anak, gejala yang dialami lebih mengarah pada penyakit Kawasaki, namun pada remaja dan dewasa muda terlihat lebih seperti respons inflamasi yang berlebihan yang melibatkan jantung dan organ lainnya.

"Yang lebih tua memiliki kasus yang lebih parah," jelas Dr Jennifer Lighter, dokter penyakit menular anak di NYU Langone. Ada kekhawatiran sindrom ini tidak terdiagnosis pada orang dewasa, sebagian karena selain dokter anak banyak yang jarang melihat kasus penyakit Kawasaki.

Para dokter kini mengupayakan pada otoritas kesehatan untuk menyebarluaskan peringatan soal sindrom ini untuk membantu para pasien COVID-19 dewasa muda. Banyak pasien dengan gejala MIS-C memiliki antibodi yang dapat melawan virus corona, ketimbang infeksi yang aktif, yang mengungkapkan bahwa sindrom ini bisa jadi hasil dari respons imun yang tertunda terhadap virus tersebut.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mempelajari kemungkinan keterkaitan antara infeksi virus corona (COVID-19) yang menyebabkan gejala serupa dengan sindrom Kawasaki pada anak-anak. "Laporan awal menduga bahwa sindrom ini (sindrom serupa Kawasaki) mungkin berhubungan dengan COVID-19," ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers virtual, Jumat (15/5) lalu.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts