Respons PBB Usai Dituding AS Manfaatkan Pandemi Corona untuk Promosikan Aborsi
Reuters
Dunia
Pandemi Virus Corona

Amerika Serikat rupanya menganggap resolusi PBB terkait 'Layanan kesehatan seksual dan reproduksi' selama pandemi virus corona sebagai kode untuk mempromosikan aborsi.

WowKeren - PBB rupanya tak ingin tinggal diam usai Amerika Serikat melemparkan tudingan yang menyebut bahwa Organisasi Dunia tersebut memanfaatkan pandemi virus corona (COVID-19) demi mempromosikan aborsi.

Sebelumnya, AS memang menuduh PBB menjadikan COVID-19 sebagai peluang untuk mempromosikan akses menuju aborsi melalui respons kemanusiaan terhadap wabah global mematikan tersebut. "Tuduhan apa pun bahwa kami sedang memanfaatkan pandemi Covid-19 sebagai peluang untuk mempromosikan aborsi tidak benar," kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric, dilansir Reuters pada Jumat (22/5).


"Saat kami mendukung layanan kesehatan, yang mencegah jutaan perempuan meninggal selama kehamilan dan persalinan dan melindungi masyarakat dari infeksi seksual menular, termasuk HIV, kami tidak berusaha mengesampingkan hukum nasional," katanya.

Dalam surat kepada Sekjen PBB Antonio Guterres pada Senin, penjabat Administrator USAID John Barsa mengatakan rencana badan dunia, yang diumumkan dua bulan lalu, menjadikan layanan kesehatan seksual dan reproduktif sama pentingnya dengan kerawanan pangan, layanan kesehatan esensial, gizi buruk, tempat tinggal, dan sanitasi.

Washington telah lama menganggap "layanan kesehatan seksual dan reproduksi" sebagai kode aborsi. "PBB seharusnya tidak memanfaatkan krisis ini sebagai peluang untuk mendorong akses aborsi sebagai 'layanan esensial'," kata Barsa.

Ia menambahkan bahwa "hal paling mengerikan" dari rencana tersebut adalah "menyerukan distribusi yang luas soal obat-obatan yang memicu aborsi dan persediaan aborsi, serta promosi aborsi."

PBB sendiri saat ini sedang mengupayakan rencana penanganan COVID-19 senilai USD 6,7 miliar (sekitar Rp 99,59 triliun). PBB sejauh ini telah menerima USD 1 miliar (sekitar Rp 14,86 triliun), yang sebanyak USD 172,9 juta (sekitar Rp 2,57 triliun) di antaranya didapat dari Amerika Serikat.

Rencana PBB adalah untuk membantu 63 negara, terutama di Afrika dan Amerika Latin, memerangi penyebaran dan destabilisasi dampak pandemi. Guterres mengungkapkan keprihatinan tentang dukungan yang tidak memadai bagi negara miskin dan kurangnya kepemimpinan dari negara-negara besar dalam perang melawan virus corona.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts