Waspada Warga Surabaya, Dua Daerah Ini Jadi Pusat Sebaran Corona Tertinggi
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Waspada, dua daerah ini dilaporkan telah menjadi pusat penyebaran virus corona setelah menunjukkan jumlah kasus COVID-19 tertinggi di Kota Surabaya. Mana saja?

WowKeren - Provinsi Jawa Timur (Jatim) saat ini telah menjadi pusat penyebaran virus corona (COVID-19) tertinggi kedua di Indonesia. Berdasarkan data dari covid.go.id hingga Minggu (24/5), Jatim telah melaporkan 3.596 orang positif virus corona atau sekitar 16,5 persen dari seluruh kasus di Indonesia.

Kota Surabaya menjadi daerah penyumbang kasus COVID-19 terbesar di provinsi Jatim, yakni sebesar 1.927 orang. Kini, ada dua kecamatan di Surabaya yang menjadi wilayah penyebaran virus corona terbesar di Kota Pahlawan.


Dilansir SuaraSurabaya, kedua kecamatan tersebut adalah Kecamatan Rungkut dan Kecematan Krembangan. Berdasarkan Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, total ada 10 kecamatan di Surabaya yang mengalami kasus tertinggi virus corona.

Kecamatan Rungkut menjadi tempat penyebaran virus corona tertinggi setelah melaporkan adanya 180 pasien positif COVID-19. Kemudian daerah tertinggi kedua penyebaran virus corona di Kecamatan Krembangan dilaporkan sebanyak 172 orang.

Selanjutnya ada Kecamatan Tambaksari sebanyak 101 orang, Kecamatan Sawahan sebesar 87 orang, dan Kecamatan Wonokromo 85 orang. Lalu Kecamatan Gubeng 76 orang, Kecamatan Bubutan 73 orang, Kecamatan Mulyorejo 58 orang, Kecamatan Tegalsari 55 orang dan Kecamatan Sukolilo 54 orang.

Sementara itu untuk tingkat kelurahan, ada 10 kelurahan yang dilaporkan menjadi kasus tertinggi COVID-19 di Surabaya. Diantaranya adalah Kelurahan Kemayoran 113, Kalirungkut 75, Kedung Baruk 61, Jepara 40, Ngagel Rejo 39, Banyu Urip 37, Mojo 31, Morokrembangan 27, Mulyorejo 26 dan Ketintang 24.

Camat Rungkut, Yanu Mardianto mengatakan jika pihaknya terus melakukan sosialisasi terhadap warga agar disiplin menerapkan protokol kesehatan. Sosialisasi ini khususnya berikan ke pemilik-pemilik usaha agar memahami peraturan semasa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilakukan.

”Kami sudah masif sosialisasi ke masyarakat, baik itu di wilayah perkampungan, perumahan, pasar, maupun pertokoan,” kata Yanu Mardianto seperti dilansir dari SuaraSurabaya, Minggu (24/5). “Tapi dalam prosesnya, kami menemui berbagai kendala.”

“Kita lakukan sosialisasi kepada pemilik warung dan pengusaha terkait aturan apa saja yang boleh dan tidak saat PSBB,” sambungnya. “Khususnya protokol kesehatan yang harus disiapkan, oleh tempat usaha yang boleh buka ketika PSBB.”

Selain itu, Yanu mengatakan jika pihaknya telah bekerja sama dengan puskesmas terus melakukan pelacakan di lapangan. Saat diketahui ada warga yang terinfeksi COVID-19 dan masih berada di rumah, maka Yanu berkolaborasi dengan RT/RW dan Pekerja Sosial Masyarakat untuk menghubungi warga itu agar mau dilakukan penjemputan lalu dibawa ke rumah sakit.

“Sedangkan keluarga yang ditinggalkan menjadi tanggungan pemkot untuk mendapatkan pemakanan, karena dia harus isolasi mandiri,” papar Yanu. “Sebab, begitu ada satu keluarga yang konfirmasi, maka dalam satu keluarga itu masuk ODP (orang dalam pemantauan).”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts