Museum Ditutup Akibat Pandemi COVID-19, Perawatan Benda Koleksi Ikut Kena Imbas
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Kandungan bahan kimia tertentu dalam disinfektan yang disemprotkan ke ruangan galeri tak menutup kemungkinan menyebabkan kerusakan pada permukaan benda koleksi.

WowKeren - Pandemi COVID-19 telah memberikan tantangan pada banyak sektor di dunia, termasuk sektor wisata seperti museum dan galeri di berbagai negara. Akibat pandemi corona yang meluas, museum terpaksa harus ditutup dalam waktu yang lama.

Hal ini merupakan tantangan tersendiri. Pasalnya, penutupan museum juga memberikan pengaruh pada perawatan karya koleksi yang ada di sana.


Konservator Galeri Nasional Indonesia Jarot Mahendra mengatakan tenaga yang biasa merawat koleksi harus bekerja secara work from home atau wfh sejak pandemi. Sehingga frekuensi pengecekan untuk ruangan juga menjadi berkurang.

"Tenaga yang merawat koleksi juga berkurang karena diterapkannya work from home," kata Jarot dalam keterangannya, Rabu (27/5). "Pengecekan suhu ruangan, kelembapan udara, serta hal-hal teknis lainnya juga berkurang intensitasnya."

Sementara itu untuk mencegah penularan virus juga dilakukan penyemprotan disinfektan ke ruang galeri. Jarot menilai jika kandungan bahan kimia tertentu dalam disinfektan kemungkinan bisa merusak permukaan benda karya seni rupa.

Tak hanya cairan disinfektan, hal serupa juga dikhawatirkan dari sabun cuci tangan maupun hand sanitizer. Jika cairan tersebut dengan bahan kimia tertentu menyentuh langsung permukaan benda koleksi maka kemungkinan merusak juga ada.

Oleh sebab itu, perlu adanya strategi khusus untuk melakukan perawatan. "Karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk memastikan agar karya seni rupa tetap aman dan terawat dengan baik selama masa pandemi COVID-19," kata Jarot.

Menambahkan, Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto menuturkan jika karya seni yang dimiliki merupakan koleksi negara yang memiliki nilai penting. Sehingga perlu dilakukan perawatan yang tepat. "Karena itu, koleksi tersebut penting untuk dilindungi dengan cara dirawat secara intensif," kata Pustanto.

Penutupan sektor wisata akibat pandemi COVID-19 tak hanya dialami oleh museum dan galeri namun juga kebun binatang. Penutupan lembaga konservasi membuat pengelola harus memutar otak agar kebutuhan satwa tetap terpenuhi.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts