Taylor Swift Kritik Trump Soal Kasus George Floyd, Singgung Supremasi Kulit Putih dan Rasisme
Selebriti

Trump diketahui menuai kontroversi usai menuliskan cuitan tentang demonstrasi di Minneapolis terkait kasus pembunuhan George Floyd. Dalam cuitannya, Trump memerintahkan penembakan bagi para perusuh.

WowKeren - Taylor Swift yang selama ini dikenal sebagai selebriti yang pasif soal urusan politik mendadak mengkritik Presiden Donald Trump secara terbuka, sebagai respons atas kasus pembunuhan George Floyd oleh seorang polisi kulit putih. Diketahui, insiden tersebut memicu amarah massa dan menimbulkan demonstrasi besar-besaran di Minneapolis.

Diketahui, Trump sebelumnya memicu kontroversi usai menuliskan cuitan sebagai tanggapan atas kasus tersebut. Bukan tanpa alasan, pasalnya Trump mengatakan akan mengambil kendali atas situasi apapun yang terjadi di Minneapolis seraya memberi peringatan akan menurunkan pasukan jika penjarahan dilakukan oleh demonstran. Bahkan Trump memerintahkan penembakan bagi para perusuh.


"Preman-preman ini tidak menghormati memori kematian George Floyd, dan saya tidak akan membiarkan itu terjadi,"," cuit Presiden AS tersebut di akun Twitter miliknya. "Saya berbicara dengan Gubernur Tim Walz dan mengatakan kepadanya bahwa Militer bersamanya sepanjang jalan. Kesulitan apa pun dan kami akan mengambil kendali tetapi, ketika penjarahan dimulai, maka penembakan juga dimulai. Terima kasih!"

Sebagai respons atas cuitan tersebut, Taylor Swift pun meradang dan menyebut Trump menyulut tindak supremasi kulit putih serta mencerminkan rasisme. Bahkan Taylor secara tersirat mengajak pendukungnya untuk tak lagi memilih Trump di Pilpres AS bulan November mendatang.

Photo-INFO

"Setelah menyalakan api supremasi kulit putih dan rasisme seluruh kepresidenan Anda, Anda memiliki keberanian untuk berpura-pura superioritas moral sebelum mengancam kekerasan? 'Ketika penjarahan mulai penembakan dimulai'??? Kami akan memilih Anda keluar pada bulan November @realdonaldtrump" cuit pelantun "ME!" tersebut.

Taylor sendiri memang pernah berbicara tentang ketidaksetujuannya terhadap pemerintahan Trump dalam wawancara dan diskusi dengan penggemar, akan tetapi pelantun "You Need To Calm Down" tersebut belum pernah mengirim cuitan langsung kepada sang Presiden dan mengkritiknya.

Di sisi lain, pihak Twitter sendiri telah mengambil tindakan atas cuitan Trump yang dinilai melanggar kebijakan kekerasan. Kicauan Trump sekarang disembunyikan di balik pemberitahuan Twitter yang mengklaim kicauan itu melanggar kebijakan tentang kekerasan. Kicauan Trump masih dapat dilihat dan di-retweet dengan komentar, tetapi pengguna tidak bisa menyukai atau berkomentar atas kicauan tersebut.

"Kami telah mengambil tindakan untuk mencegah orang lain terinspirasi untuk melakukan tindakan kekerasan, tetapi tetap menyimpan Tweet di Twitter karena penting agar publik masih dapat melihat Tweet tersebut karena relevansinya dengan masalah yang sedang berlangsung yang menjadi kepentingan publik," kata Twitter.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts