Geger Panitia Diskusi 'Pemecatan Presiden' di UGM Diteror, Istana Beri Respons Begini
Nasional

Panitia dan moderator dalam diskusi bertajuk 'pemecatan presiden' di FH UGM mengaku mendapatkan teror ancaman pembunuhan. Istana Kepresidenan pun memberikan reaksi seperti ini.

WowKeren - Sebuah diskusi di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada menyita perhatian karena mengangkat tema yang cukup kontroversial. Bertajuk "pemecatan presiden", diskusi ini dianggap menjurus ke arah makar.

Mirisnya kini para panitia yang terlibat dalam diskusi tersebut mengaku mendapatkan teror ancaman pembunuhan. Hal ini seperti diungkap oleh Dekan FH UGM, Sigit Riyanto lewat keterangan tertulisnya pada Sabtu (30/5) hari ini.


Perihal teror ancaman pembunuhan itu pun ternyata telah didengar pihak Istana Kepresidenan. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Donny Gahral Adian lantas menyarankan agar teror ancaman pembunuhan itu dilaporkan ke pihak berwajib.

"Laporin ke polisi," ujar Donny pada Sabtu (30/5), seperti dikutip dari CNN Indonesia. "Siapa yang mengancam, apa motifnya."

Namun Donny menegaskan pihak panitia dan UGM harus bisa membuktikan dengan benar ancaman tersebut. "Jadi, tidak bisa juga kemudian mengatakan tiba-tiba diancam tapi tidak ada informasi yang lebih terang," tutur Donny.

Lebih lanjut, Donny juga menekankan Istana Kepresidenan tak menganggap agenda diskusi tersebut sebagai bentuk ujaran kebencian atau semacamnya. Sebab hal tersebut merupaakn bentuk kebebasan berpendapat yang telah dilindungi konstitusi.

"Yang jelas pemerintah menghormati kebebasan berpendapat sejauh masih dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku," tegas Donny. "Artinya bukan ujaran kebencian, hasutan."

Sebelumnya Dekan FH UGM, Sigit Riyanto menyebut sejumlah orang yang terlibat dalam diskusi mulai mendapatkan teror dari orang tak dikenal pada Kamis (28/5) malam. Bahkan tak hanya menyasar ke pihak panitia, teror juga dialamatkan ke keluarga.

Setidaknya ada dua nomor telepon yang memberikan ancaman pembunuhan. Mereka mengatasnamakan salah satu organisasi masyarakat dalam teks yang dikirimkannya.

"Saya akan bunuh keluarga bapak semuanya kalo gabisa bilangin anaknya," bunyi pesan teror tersebut. "Tolong serahin diri aja. Saya akan bunuh satu keluarga *****."

Namun ketika dikonfirmasi apakah akan menempuh jalur hukum atau tidak, Sigit tak memberikan jawaban gamblang. "Apa harus lapor?" demikian kutipan jawabannya melalui pesan tertulis.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts