Ilmuwan Prancis Gencar Promosikan Klorokuin Sebagai Obat COVID-19, Apa Alasannya?
AFP/Getty Images/Gerard Julien
Dunia
Pandemi Virus Corona

Seorang ilmuwan asal Prancis ini dengan gigih terus mempromosikan klorokuin sebagai obat untuk menyembuhkan virus corona meski belum terbukti. Lantas, apa alasannya?

WowKeren - Vaksin virus corona (COVID-19) hingga saat ini masih belum juga ditemukan. Akibatnya, sejumlah negara hanya mengandalkan perawatan dan obat seadanya yang dinilai cukup mampu dalam menyembuhkan pasien virus corona.

Indonesia contohnya menggunakan klorokuin atau obat malaria untuk mengobati pasien COVID-19. Meski demikian, cara tersebut mendapat kritikan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).


WHO lantas mendesak agar Indonesia segera menghentikan penggunaan klorokuin terhadap pasien virus corona lantaran keamanan obatnya belum terbukti. Namun, seorang ilmuwan asal Prancis justru secara gigih membela penggunaan obat Malaria itu.

Profesor Didier Raoult dari Marseille, Prancis ini terus memperjuangkan penggunaan klorokuin dan hidroksiklorokuin sebagai obat untuk perawatan COVID-19. Seperti yang diketahui, Raoult bukanlah orang sembarangan lantaran telah terkenal dengan sejumlah riset penelitiannya di dunia kedokteran selama ini.

Raoult merupakan seorang Direktur Institut Hospitalo-Universitaire (IHU) Mediterranee Infection di Marseille. Bahkan, Presiden Prancis Emmanuel Macron sampai datang langsung menemuinya untuk melakukan konsultasi penanganan virus corona.

Secara tegas, Raoult menyatakan penolakannya terhadap riset publikasi dari jurnal medis The Lancet. Seperti yang diketahui, jurnal penelitian tersebut telah menjadi dasar WHO untuk memerintahkan penghentian sementara pemakaian klorokuin sebagai obat COVID-19.

Dalam cuitan di Twitter seperti dilansir dari Channel News Asia, Raoult mengkritik riset yang diterbitkan The Lancet. Menurutnya, tidak mungkin data yang diambil dari 5 benua menghasilkan angka yang homogen atau mirip-mirip. Ia lantas menyebut hal itu sebagai permainan data belaka saja.

”Bagaimana studi yang berantakan dengan big data mengubah apa yang kita lihat?” ujar Raoult dilansir Channel News Asia, Senin (1/6). “Antara manipulasi data (tidak disebutkan dalam materi dan metode) atau permainan data palsu.”

Raoult juga memaparkan pembuktiannya jika klorokuin aman untuk mengobati pasien virus corona. Ia mengaku telah merawat banyak pasien COVID-19 dan mengandalkan klorokuin untuk mengobati mereka. Hasilnya cukup positif lantaran jumlah yang sembuh dengan mengkonsumsi obat ini cukup tinggi.

”Di sini kami punya 4.000 pasien. Jangan pikir saya akan berubah karena ada orang melakukan big data, yang semacam fantasi delusional,” papar Raoult. “Tidak ada yang akan mengubah apa yang saya lihat dengan mata saya sendiri. Ini adalah akhir dari pandemi.”

Hidroksiklorokuin adalah obat arthritis sedangkan klorokuin adalah obat malaria. Sebelimnya, jurnal kedokteran The Lancet menerbitkan riset yang menyebutkan kedua obat ini meningkatkan risiko kematian pada pasien. Pasalnya, obat ini disebut punya efek samping pada jantung.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts