Anies Buka-Bukaan Soal Nasib Jakarta: Corona Ciptakan Krisis Terbesar Dalam Sejarah
Instagram/aniesbaswedan
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Gubernur Anies Baswedan buka-bukaan ungkap kondisi DKI Jakarta saat ini, akui sedang dihadapkan dengan krisis terbesar dalam sejarah akibat pandemi virus corona (COVID-19).

WowKeren - Provinsi DKI Jakarta sampai saat ini masih menjadi wilayah dengan kasus virus corona (COVID-19) tertinggi di Indonesia. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kini buka-bukaan soal kondisi ibu kota selama pandemi berlangsung.

Anies mengaku jika Jakarta tengah dihadapkan dengan krisis terbesar dalam sejarah. Pasalnya, pandemi corona telah merenggut banyak nyawa dan menghantam sektor kesehatan. Tak sampai disitu, COVID-19 juga telah menciptakan gelombang krisis ekonomi.


”Semula ini adalah krisis kesehatan umum, kini sudah mulai terasa sebagai krisis ekonomi,” papar Anies dalam akun YouTube Pemprov DKI Jakarta, Senin (1/6). “Dan Jakarta adalah episentrum pertama dan di awal-awal, mayoritas kasus (positif) adalah di Jakarta.”

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ini juga menceritakan bagaimana perjuangan susah payah yang harus dilakukan di tengah hantaman corona. Ia menyebut dampak wabah yang telah menghantam perekonomian ibu kota dengan parah.

Saat ini, kasus positif COVID-19 di Jakarta memang sudah menunjukkan tanda-tanda mulai melandai. Meski demikian, Anies mengatakan jika permasalahan belum selesai.

Pasalnya, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama ini telah berimbas pada terhentinya sejumlah kegiatan masyarakat. Diantaranya terhentinya kegiatan keagamaan, kegiatan sosial, kegiatan budaya, dan juga kegiatan perekonomian.

Selain itu, kegiatan pasar, perdagangan, dan perindustrian menjadi terganggu. Kegiatan perekonomian informal banyak yang terhenti dan Pemprov DKI Jakarta juga terkena dampak langsung.

Dampaknya, pendapatan pajak dalam APBD DKI Jakarta Tahun Anggaran 2020 turun dari Rp50,17 triliun menjadi Rp 22,5 triliun atau tinggal 45 persen. Sedangkan anggaran belanja turun dari Rp87,9 triliun menjadi Rp47,2 triliun atau tinggal 53 persen.

Total, pendapatan Pemprov DKI Jakarta saat ini menjadi yang terburuk sepanjang sejarah. ”Belum pernah di dalam sejarah Pemprov DKI Jakarta, kita mengalami penurunan pendapatan sebesar ini, yaitu lebih dari Rp40 triliun,” ujar Anies.

Konsekuensinya, Anies terpaksa mengambil keputusan relokasi anggaran. Pemprov DKI Jakarta melakukan pengurangan anggaran di berbagai sektor belanja langsung maupun belanja tidak langsung.

Semua mengalami pemangkasan dan pemangkasannya secara drastis. Namun dibalik pemangkasan itu semua, Anies memastikan jika program-program yang terkait dengan bantuan rakyat prasejahtera dipertahankan.

Dari berbagai dampak pandemi, Anies menyatakan tahun ini tidak ada lagi pembangunan baru, tidak ada lagi belanja modal kecuali terkait penanggulangan banjir, dan tidak ada belanja yang tidak prioritas. Semua anggaran difokuskan pada penanganan COVID-19 beserta dampak turunannya.

”Tugas kita adalah melindungi rakyat. Keselamatan rakyat adalah prioritas nomor satu,” tegas Anies. “Dalam kondisi apapun, sikap kita harus jelas. Menomorsatukan rakyat daripada diri sendiri, apalagi dalam kondisi penuh cobaan seperti sekarang ini.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts