Liput Demo George Floyd, Sejumlah Jurnalis Alami Kekerasan
Dunia

Sejumlah jurnalis dan fotografer mengalami kekerasan dan penangkapan saat meliput aksi demo terkait kematian George Floyd. Peristiwa tersebut bermula sejak Jumat (30/5) lalu.

WowKeren - Kasus kematian pria kulit hitam bernama George Floyd yang melibatkan seorang anggota polisi di Minneapolis, Amerika Serikat (AS), memicu kemarahan publik. Diketahui, Floyd tewas setelah lehernya diinjak oleh polisi bernama Derek Chauvin.

Kemarahan publik yang tak terbendung membuahkan aksi demonstrasi yang menuntut perlakuan adil serta penghapusan sikap rasisme yang kerap terjadi pada orang-orang berkulit hitam di Negeri Paman Sam tersebut. Namun, baru-baru ini terjadi penyerangan serta penangkapan yang dialami oleh sejumlah wartawan yang tengah meliput aksi demo tersebut.

Diketahui, insiden tersebut telah terjadi sejak Jumat (29/5) lalu bermula dengan insiden salah tangkap salah satu kru stasiun televisi CNN di Minneapolis. Menyusul pada Sabtu (30/5), Ian Smith, jurnalis foto untuk stasiun televisi KDKA di Pittsburgh, mengatakan dirinya diserang oleh pengunjuk rasa di pusat kota.

"Mereka menginjak dan menendang saya. Saya memar dan berdarah tapi (masih) hidup," cuit Ian Smith melalui akun Twitternya. "Kamera saya hancur. Sekelompok pemrotes lainnya menarik saya keluar dan menyelamatkan hidup saya. Terima kasih!"

Selain itu, wartawan dari stasiun televisi Louisville, WLKY, juga jadi sasaran kekerasan pemrotes. Pembaca berita Julie Dolan menuturkan dalam cuitannya bahwa kendaraan WLKY dihancurkan dan jurnalis video mereka diserang hingga harus dilarikan ke instalasi gawat darurat. "Situasi ini bisa jadi jauh lebih buruk jika bukan karena keamanan," katanya.

Kemudian awak stasiun televisi Fox pun tak lepas dari sasaran kekerasan dalam demonstrasi tersebut. Koresponden Leland Vittert dan juru kamera Christian Galdabini dilaporkan ditinju dan dipukul dengan benda tumpul saat melarikan diri dari Lafayette Park.


Peristiwa tersebut terekam dalam video yang memperlihatkan sejumlah pemrotes yang mengutuk Fox sebagai media sayap kanan. Tak sampai di situ, situasi lebih mengerikan dialami oleh awak media lain saat bertugas di Minneapolis, Denver, Phoenix dan Las Vegas.

Fotografer dan penulis Linda Tirado mengatakan mata kirinya buta akibat terkena peluru karet yang ditembakkan polisi dari jarak dekat. Kru stasiun televisi KMGH melaporkan insiden pemukulan dengan bola cat dan gas air mata. Pengalaman menakutkan dialami reporter Briana Whitney di Phoenix saat sedang melaporkan peristiwa secara langsung.

"Saya sengaja dihalangi oleh pria ini saat saya sedang mengudara mencoba melaporkan apa yang terjadi selama protes di markas polisi Phoenix. Saya merasa dilanggar dan ini menakutkan,"ujarnya.

Di Las Vegas sendiri, dua orang jurnalis foto malah ditangkap saat meliput protes. Fotografer Bridget Bennett berkata dirinya ditangkap bersama jurnalis foto lain. Namun kemudian dirinya dibebaskan pada Sabtu pagi.

Umumnya para wartawan menginginkan fokus perhatian diarahkan pada situasi yang mereka liput. Meski demikian insiden ini memancing keprihatinan dari kelompok-kelompok advokasi.

"Jurnalis memiliki hak Amandemen Pertama Undang-Undang Dasar Amerika Serikat yang jelas untuk meliput acara-acara publik," kata Direktur Advokasi Yayasan Kebebasan Pers (Freedom of the Press Foundation), Parker Higgins dalam sebuah pernyataan dilansir CNN.

Sementara itu, sebuah dukungan dilayangkan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres untuk para pekerja media massa. "Ketika jurnalis diserang, masyarakat diserang. Tidak ada demokrasi yang dapat berfungsi tanpa kebebasan pers dan masyarakat mana pun tidak adil tanpa jurnalis yang menyelidiki kesalahan dan mengatakan kebenaran kepada kekuasaan," cuit Guterres lewat Twitter.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts