Tiongkok Disebut Manfaatkan Kerusuhan Kematian George Floyd untuk Jatuhkan AS
Dunia

Para diplomat dan media Tiongkok disebut memanfaatkan kerusuhan akibat kematian George Floyd untuk membandingkan para pemrotes AS dengan para demonstran pro-demokrasi di Hong Kong.

WowKeren - Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, Robert O'Brien, menyebut bahwa Tiongkok mengambil keuntungan dari kerusuhan dan demonstrasi besar-besaran atas kematian George Floyd. O'Brien menyatakan bahwa Tiongkok sengaja menjadikan unjuk rasa ini untuk menjatuhkan AS di mata Internasional.

Diketahui, sebelumnya Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian, mengatakan demo tersebut menggambarkan inkonsistensi pemerintah AS atas persoalan Hak Asasi Manusia serta menunjukkan kronisnya masalah rasisme dan kekerasan polisi.


"Kehidupan orang kulit hitam juga adalah masalah hidup. Hak asasi manusia mereka juga harus dijamin," ujar Zhao kepada wartawan di Beijing, merujuk kematian George Floyd yang dibunuh oleh seorang polisi di Minneapolis. "Rasisme terhadap etnis minoritas di AS adalah penyakit kronis masyarakat Amerika."

Bukan hanya itu, para diplomat dan media pemerintah Tiongkok juga disebut memanfaatkan kerusuhan yang dipicu oleh kematian George Floyd untuk menuduh Amerika Serikat munafik dan membandingkan para pemrotes Amerika dengan para demonstran pro-demokrasi di Hong Kong.

Seperti diketahui, Beijing sudah lama merasa geram, terutama kepada Washington, atas sikap mereka terhadap protes yang mengguncang Hong Kong tahun lalu. Zhao pada hari Senin (1/6) mengatakan tanggapan pemerintah AS terhadap para demonstran adalah contoh nyata standar ganda paling populer di dunia. "Mengapa AS menyanjung apa yang disebut Hong Kong Merdeka dan kekerasan demonstran hitam sebagai pahlawan dan aktivis, sementara menyebut orang-orang yang memprotes rasisme 'perusuh'?" kata Zhao.

Terkait tuduhan tersebut, Zhao lantas mengatakan pernyataan O'Brien sangat tidak berdasar. Menurutnya, Tiongkok tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain dan masyarakat di dunia juga menyaksikan apa yang sedang terjadi di AS.

"Tiongkok menentang tindakan pelanggaran hukum dalam bentuk apa pun dan kami berharap pihak AS menyelesaikan isu-isu diskriminasi rasial domestiknya," ujarnya.

Terlepas dari hal ini, George Floyd sendiri adalah seorang warga kulit hitam yang pekan lalu ditangkap oleh polisi Minneapolis. Ia tewas setelah dijatuhkan ke tanah kemudian lehernya dijepit menggunakan lutut.

Rekaman video yang beredar menunjukkan leher Floyd ditekan oleh petugas kepolisian Derek Chauvin selama 8 menit 46 detik. Chauvin dan ketiga rekannya kemudian dipecat dan didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga oleh departemen kehakiman. Kendati demikian, kematian Floyd masih menimbulkan demonstrasi besar-besaran di AS.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts