Peneliti Sebut Jaga Jarak 2 Meter Tak Cukup Untuk Cegah Penularan Corona, Ini Alasannya
Health
Pandemi Virus Corona

Sebagai informasi, menjaga jarak fisik sejauh 2 meter yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) didasarkan pada studi tetesan pernapasan pada tahun 1930-an.

WowKeren - Para peneliti baru-baru ini menyebut bahwa menjaga jarak atau melakukan social distancing sejauh 2 meter sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tampaknya tidak cukup untuk menghentikan penularan virus corona. Gagasan ini tertuang dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal Science.

Dalam makalah tersebut, 3 ahli menyepakati bahwa partikel corona aerosol dapat menumpuk di udara dalam ruangan tertutup selama berjam-jam. Partikel tersebut mudah terhirup dan masuk ke saluran pernapasan manusia, baik lewat hidung maupun mulut.


"Banyak bukti menunjukkan bahwa menjaga jarak 2 meter untuk cegah corona kemungkinan tidak cukup menghentikan penularan di dalam ruangan di mana aerosol dapat tetap mengudara selama berjam-jam," papar peneliti, dilansir Fox News pada Selasa (2/6). "Menumpuk dari waktu ke waktu, dan mengikuti aliran udara pada jarak lebih dari 2 meter."

Menurut Chia Wang dari National Sun Yat-sen University di Taiwan, serta Kimberly Prather dan Dr. Robert Schooley dari University of California di San Diego, sebagian besar penyebaran COVID-19 terjadi melalui transmisi udara atau aerosol. Penularan juga lebih banyak disebarkan oleh pasien corona yang tak memiliki gejala, kala mereka bernapas dan berbicara.

Oleh sebab itu, para peneliti tersebut mengimbau supaya masyarakat menggunakan masker ketika berada di tempat umum. Hal ini dilakukan demi mencegah penularan virus corona lewat aerosol.

Selain itu, mereka juga menyarankan supaya masyarakat tetap menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk menekan angka penularan. Menurut para peneliti tersebut, kedua hal ini bisa membantu mengidentifikasi dan mengisolasi orang tanpa gejala (OTG) yang terinfeksi COVID-19.

"Sangat penting untuk mengenakan masker di lokasi dengan kondisi ruangan yang dapat mengakumulasi virus konsentrasi tinggi," jelas peneliti. "Seperti ruang perawatan pasien atau fasilitas kesehatan, pesawat terbang, restoran, dan tempat-tempat ramai lainnya dengan ventilasi yang terbatas."

Sebagai informasi, menjaga jarak fisik sejauh 2 meter yang direkomendasikan oleh WHO didasarkan pada studi tetesan pernapasan pada 1930-an. Pada saat itu, masih belum ada teknologi yang mampu mendeteksi partikel aerosol kecil.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts