AS Rusuh Imbas Kasus George Floyd, Apa Dampaknya ke Ekonomi Indonesia?
Nasional

Kepala ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ryan Kiryanto menilai bahwa kerusuhan di AS membuat persoalan yang dihadapi pemerintah setempat makin ruwet.

WowKeren - Kasus kematian pria kulit hitam bernama George Floyd di Amerika Serikat memicu kemarahan publik. Akibatnya, kerusuhan dan demonstrasi besar-besaran terjadi di Negeri Paman Sam.

Menurut Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah, kerusuhan di AS akan berdampak besar pada perekonomian mereka. "Apalagi saat ini ekonomi AS sedang terpuruk oleh wabah COVID-19," tutur Piter dilansir detikcom pada Selasa (2/6).


Menurut Piter, kerusuhan ini bahkan turut mengancam hegemoni AS di level global. Kondisi ini selanjutnya akan mempengaruhi aliran modal global.

"Negara-negara yang ekonominya sudah mulai membaik seiring meredanya wabah akan menjadi pilihan masuknya modal asing," jelas Piter. "Indonesia seharusnya bisa memanfaatkan momentum ini sehingga rupiah bisa melanjutkan penguatannya."

Sementara itu, Kepala ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ryan Kiryanto menilai bahwa kerusuhan di AS membuat persoalan yang dihadapi pemerintah setempat makin ruwet. Mengingat AS sendiri kini masih menjadi negara dengan jumlah kasus corona tertinggi di dunia.

"Meluasnya sentimen negatif publik hingga ke beberapa state di AS dengan menjalarnya tindakan unjuk rasa atau demonstrasi anarkis berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah AS dan otoritas keamanan," jelas Ryan. Ditambah lagi, AS akan melaksanakan Pemiliha Presiden (Pilpres) pada November 2020 mendatang.

Lebih lanjut, Ryan menilai bahwa respons pasar bisa negatif karena aksi unjuk rasa sudah masuk hari kelima jelang keenam dan belum ada titik temu atau jalan keluar. Dia menyebut yang dikhawatirkan adalah cara penyelesaian yang mungkin berlarut-larut dan bisa menyulut situasi di AS makin memburuk.

"Bursa AS bisa tertekan, pun dengan indeks dolar AS tertekan terhadap mata uang lainnya," pungkas Ryan. "Tentu saja rupiah diuntungkan dengan situasi buruk di AS sehingga berpeluang menguat ke kisaran Rp 14.750-14.850 per dolar AS."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts