Satu Keluarga Positif Corona Di Surabaya Tolak Bantuan Pemerintah, Kenapa?
Instagram/dishubsurabaya
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Satu keluarga yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona (COVID-19) di Surabaya baru saja menolak bantuan dari pemerintah. Terungkap, ada alasan mulia dibaliknya.

WowKeren - Provinsi Jawa Timur saat ini menjadi wilayah kedua dengan penyebaran virus corona (COVID-19) tertinggi di Indonesia. Kota Surabaya menjadi penyumbang kasus COVID-19 terbesar di Jatim.

Di tengah situasi gawat tersebut, rupanya ada berbagai kisah inspiratif dari pasien positif virus corona. Salah satunya dari satu keluarga muda yang merupakan warga Kenjeran, Surabaya, Jatim. Keluarga yang terdiri dari suami istri serta tiga dari empat anaknya dinyatakan positif terkena COVID-19.


Meski hampir semuanya terinfeksi virus corona, namun keluarga ini justru menolak bantuan berupa makanan dari pemerintah kota setempat. Rupanya, keluarga ini memiliki alasan mulia dibalik penolakan itu. Mereka meminta agar Pemkot Surabaya memberikan bantuan makanan kepada keluarga lain yang lebih membutuhkan.

Kisah ini disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya Reni Astuti. Ternyata, Reni dicurhati oleh istri dari keluarga muda tersebut yang bernama Lina Riskiyanti Kisworo.

”Saya dicurhati istri dari keluarga muda itu. Kebetulan saya kenal,” kata Reni Astuti saat dicurhati oleh istri dari keluarga muda tersebut di Surabaya, seperti dilansir dari SuaraJatim pada Selasa (2/6). “Mereka memutuskan menolak bantuan dari pemkot supaya bisa digunakan untuk keluarga lain yang membutuhkan.”

Reni menjelaskan jika keluarga ini menolak bantuan makanan dari pemerintah setiap hari selama isolasi mandiri di rumahnya. Selain karena ingin memberikan untuk yang lebih membutuhkan, keluarga ini juga merasa kurang nyaman dengan para tetangga jika setiap hari didatangi petugas pengantar makanan yang harus memakai pakai baju alat pelindung diri (APD).

Lebih lanjut Reni lantas menceritakan jika suami istri di keluarga tersebut dinyatakan reaktif saat menjalani rapid test di puskesmas setempat. Petugas pun langsung mengusulkan mereka berlima untuk menjalani swab test lewat jalur Dinkes Surabaya.

Sayang, jalur Dinkes Surabaya masih belum memastikan jadwal bisa kembali menangani swab test. Karena ingin segera memastikan, suami memutuskan semua anggota keluarga untuk melakukan swab mandiri di Rumah Sakit Premier Surabaya. Hasilnya suami istri beserta tiga dari empat anaknya dinyatakan positif.

Tiga anak yang dinyatakan positif yakni anak kelas 5 SD dan berusia 11 tahun, lalu kelas 2 SD dan berusia 8 tahun, dan yang terakhir berusia 5 tahun. Sedangkan anak bungsu perempuan berumur 3 tahun dinyatakan negatif.

”Ayahnya kemudian menjalani perawatan medis di salah satu rumah sakit Surabaya,” jelas Reni. “Sedangkan ibu dan anak-anaknya isolasi mandiri di rumah.”

Selama isolasi mandiri di rumah, keluarga tersebut disiplin mematuhi protokol kesehatan sehingga hasil swab yang kedua dari lima anggota keluarga dinyatakan negatif COVID-19. Reni lantas mengambil pelajaran dari kisah itu adalah warga harus tenang, disiplin isolasi mandiri dan keyakinan bahwa setiap sakit akan Allah sembuhkan.

”Saya jadi mengikuti masa masih sedih selama Ramadhan. Semoga sehat-sehat selalu keluarganya,” ungkap Reni. “Kisah itu inspiratif bisa memperkuat imun warga yang mengikuti kisahnya agar tidak menyepelekan COVID-19 namun juga tidak takut berlebihan.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts