AS Terancam Hadapi Gelombang Dua COVID-19 Akibat Aksi Demo Kematian George Floyd
Dunia
Pandemi Virus Corona

Demo anti-rasisme yang bertentangan dengan imbauan jaga jarak fisik ini berpotensi menjadi klaster baru COVID-19. Para pakar medis merasa khawatir orang tanpa gejala bisa menularkan virus saat demo.

WowKeren - Ahli Bedah Amerika Serikat, Jerome Adams, memperingatkan ancaman gelombang dua pandemi virus corona (COVID-19) akibat unjuk rasa massal yang dipicu kematian George Floyd. Seperti yang diketahui, warga Amerika marah akibat kematian Floyd, seorang pria kulit hitam yang tewas seorang perwira kulit putih menekan lututnya ke leher Floyd selama beberapa menit. Mereka turun ke jalan dan menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menuntut keadilan.

Jerome Adams menyebut bahwa gerakan demonstrasi ini membuat ribuan orang yang turun ke jalan berpotensi terpapar virus corona. "Saya khawatir terhadap konsekuensi kesehatan masyarakat, baik individu dan institusi serta orang-orang yang protes dengan cara yang berbahaya bagi diri mereka sendiri dan bagi kelompok mereka," kata Adams, seperti dikutip dari CNN pada Kamis (4/6).

Demo anti-rasisme yang bertentangan dengan imbauan jaga jarak fisik ini berpotensi menjadi klaster baru penularan COVID-19. "Berdasarkan cara penyebaran penyakit, selalu ada alasan terjadi klaster baru dan potensi wabah baru," ujarnya menambahkan.


Adams mengatakan potensi peningkatan jumlah infeksi juga akan terus terjadi mengingat ribuan warga terlihat tetap berkerumun di sejumlah Pantai Barat. Sebelumnya, sejumlah pakar medis juga merasa khawatir orang tanpa gejala bisa menularkan virus ketika banyak orang berdekatan sambil teriak dan tak menggunakan masker. Apalagi demonstrasi ini berlangsung di puluhan kota dan negara bagian di AS.

Sementara itu, George Floyd sendiri adalah seorang warga kulit hitam yang pekan lalu ditangkap oleh polisi Minneapolis. Ia tewas setelah dijatuhkan ke tanah kemudian lehernya dijepit menggunakan lutut.

Rekaman video yang beredar menunjukkan leher Floyd ditekan oleh petugas kepolisian Derek Chauvin selama 8 menit 46 detik. Chauvin dan ketiga rekannya kemudian dipecat dan didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga oleh departemen kehakiman. Kendati demikian, kematian Floyd masih menimbulkan demonstrasi besar-besaran di AS.

Kematian Floyd juga kembali membuka luka lama akan rasialisme yang dirasakan oleh banyak warga Afrika-Amerika, khususnya terkait pembunuhan dan tindakan sewenang-wenang oleh polisi, seperti pembunuhan Michael Brown pada Agustus 2014 di Ferguson, Missouri, dan Eric Garner pada Juli 2014 di New York. Aksi protes untuk menuntut keadilan bagi Floyd menyebar di 140 kota di seluruh AS pada akhir pekan lalu, dan banyak berujung kerusuhan.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts