Sempat Disetop, WHO Kembali Lakukan Uji Klinis Klorokuin untuk Pasien Corona
Dunia
Pandemi Virus Corona

WHO sempat menghentikan pengujian obat hidroksiklorokuin untuk pasien COVID-19 karena dinilai berbahaya. Namun, keputusan tersebut berubah lantaran pada Rabu (3/6), mereka kembali melanjutkan uji klinis tersebut.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memutuskan untuk kembali melanjutkan uji klinis obat hidroksiklorokuin dalam terapi pengobatan pasien COVID-19. Hal ini bertentangan dengan keputusan sebelumnya yang menyetop pengujian obat ini menyusul adanya riset yang mengungkap bahaya penggunaan obat tersebut.

Uji klinis hidroksiklorokuin telah dilanjutkan mulai Rabu (3/6) kemarin. Hidroksiklorokuin dan klorokuin menjadi dua di antara banyak obat yang digunakan untuk mengobati pasien COVID-19 dalam program Solidarity Trial dari WHO.

Namun berdasarkan riset terbaru di jurnal medis The Lancet, pasien COVID-19 dalam kondisi parah yang diberikan obat hidroksiklorokuin dan klorokuin lebih berisiko meninggal dunia.

Menurut Direktur Utama WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, pihaknya sudah meninjau data yang tersedia tentang obat hidroksiklorokuin dan klorokuin. Hasilnya, Dewan Pengawas Keamanan Data di WHO memutuskan tidak ada alasan untuk menghentikan uji klinis internasional.

"Grup eksekutif menerima rekomendasi ini dan mendukung kelanjutan dari semua Solidarity Trial, termasuk hidroksiklorokuin," katanya dalam jumpa pers dilansir CNBC.

Hidroksiklorokuin sendiri telah diterima dan dipercaya untuk menyembuhkan penyakit malaria dan kelainan autoimun seperti lupus dan rheumatoid arthritis (peradangan sendi). Kemudian, sebuah penelitian kecil di Prancis yang dipublikasi pada bulan Maret lalu menyebut, bahwa obat itu efektif untuk mengurangi beberapa gejala COVID-19.

Beberapa ahli pun memercayai bahwa klorokuin dan hidroksiklorokuin dapat membantu mengendalikan SARS-CoV-2 sebagian dengan menghalangi kemampuan virus untuk mengikat sel-sel tubuh. Studi obat pada hewan itu juga menunjukkan bahwa obat itu dapat membantu menekan reaksi kekebalan agresif yang telah dilihat dokter di beberapa paru-paru pasien dan sistem pernapasan.


Ada kemungkinan kegagalan pengobatan menggunakan klorokuin dan hidroksiklorokuin pada pasien COVID-19 terjadi karena sudah terlambat untuk kedua obat itu menghindari pengikatan virus. Dengan kata lain, virus sudah menginfeksi paru-paru secara sempurna pada pasien virus corona yang kritis.

Tetapi sampai pengkajian ulang soal penggunaan hidroksiklorokuin oleh WHO dan NIH (National Institutes of Health) selesai, kita belum bisa memastikan apakah obat malaria dan lupus itu efektif mengobati pasien COVID-19. Penelitian yang melakukan studi penggunaan hidroksiklorokuin pada gejala awal sendiri pun belum bisa memastikan obat itu efektif digunakan di awal perkembangan penyakit.

Dalam jurnal berjudul New England Journal of Medicine, para peniliti AS dan Kanada menyebutkan, hidroksiklorokuin tampaknya tidak melindungi orang-orang yang berisiko tinggi dari infeksi untuk mendapatkan COVID-19. Penelitian ini melibatkan 821 orang yang baru teridentifikasi terpapar virus corona, sekitar 4 hari.

Kemudian, beberapa pasien diberikan hidroksiklorokuin dan sebagian lainnya diberi pil plasebo (pil yang diberikan kepada pasien untuk memberikan efek psikologis positif dan tidak mengandung obat-obatan), dalam waktu empat hari setelah mereka terpapar. Hasilnya, 49 orang yang menggunakan obat klorokuin akhirnya mengidap COVID-19, sementara 58 orang yang diberikan pil plasebo juga mengalami gejala virus corona.

"Kami menemukan bahwa hidroksiklorokuin tidak lebih baik daripada plasebo dalam mencegah infeksi COVID-19 setelah orang-orang sudah terpapar virus corona,” kata Dr. Emily McDonald, asisten profesor kedokteran di Universitas McGill.

Terlepas dari kekhawatiran tentang efek samping obat hidroksiklorokuin, WHO memutuskan untuk melanjutkan studi pasien yang dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan jawaban yang konkret. “Pesannya adalah bahwa mungkin untuk melakukan studi yang tepat, dan saya tahu kita semua bersemangat untuk mencoba berbagai terapi potensial, masuk akal untuk menunggu studi yang tepat untuk mendapatkan jawaban yang pasti," kata McDonald.

“Kita akan mengajukan pertanyaan yang sama jika kita tidak mendapatkan jawaban dengan benar. Penelitian kami menjawab satu pertanyaan dan kami senang memiliki jawaban satu atau lain cara karena akhirnya mengetahui sesuatu yang pasti,” lanjutnya. "Akhirnya, kami tidak perlu meninjau kembali pertanyaan khusus ini dan kami dapat melihat opsi baru."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts