Imbas Kasus George Floyd, Trump Rancang Keppres Reformasi Polisi
Getty Images
Dunia

Untuk merumuskan rancangan keputusan reformasi polisi tersebut, Donald Trump dilaporkan mengumpulkan seluruh penasihatnya, termasuk Kepala Staf Gedung Putih, Mark Meadows.

WowKeren - Donald Trump dilaporkan sedang merancang sebuah aturan untuk melakukan reformasi kepolisian, imbas dari kematian George Floyd, warga sipil kulit hitam di Minneapolis. Meski begitu, belum diketahui kapan Trump bakal mengumumkan isi rancangan keppres tersebut.

"Kami akan membuat rancangan kebijakan secara proaktif, dengan bentuk keputusan presiden atau rancangan undang-undang," kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Kayleigh McEnany, dilansir dari CNN pada Kamis (11/6).

Untuk merumuskan rancangan keputusan reformasi polisi tersebut, Trump dilaporkan mengumpulkan seluruh penasihatnya, termasuk Kepala Staf Gedung Putih, Mark Meadows. Sejumlah penasihat Gedung Putih memperkirakan Trump bakal mengungkap soal apa saja prinsip rencana reformasi kepolisian yang dia buat dalam kunjungan kerja ke Dallas, Texas, pada hari ini.

Penasihat Senior Presiden sekaligus menantu Trump, Jared Kushner, serta Ja'Ron Smith dan sejumlah petinggi Gedung Putih lainnya dilaporkan sudah menggelar rapat untuk membahas rencana aksi reformasi kepolisian, bersama sejumlah aktivis reformasi hukum dan kelompok lembaga penegak hukum.

Sedangkan menurut Presiden Asosiasi Kepala Kepolisian Dunia, Steven Casstevens, dia dan Trump berdialog selama satu jam membahas tentang isu reformasi kepolisian dan beberapa hal yang meliputi. Antara lain soal ide membuat pusat data nasional yang bisa melacak rekam jejak para petugas yang dinilai bermasalah, serta perumusan standar panduan teknik -teknik bagi polisi secara nasional.


Sebelumnya, sejumlah aktivis dan para petinggi Partai Demokrat yang menjadi oposisi pemerintahan Trump mendesak untuk dilakukan reformasi kepolisian, sebagai bentuk reaksi atas kematian George Floyd. Tak hanya itu, sebelumnya juga sempat muncul wacana untuk menghentikan anggaran dan bahkan membubarkan kepolisian di seluruh AS.

Seperti yang diketahui, warga Amerika marah akibat kematian George Floyd, seorang warga kulit hitam yang tewas akibat ulah polisi kulit putih Minneapolis. Mereka turun ke jalan dan menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menuntut keadilan.

Kematian Floyd dinilai menjadi puncak amarah warga Amerika terkait diskriminasi dan sikap rasisme yang sistematis, terutama terhadap perlakuan aparat kepada warga kulit hitam dan minoritas.

Aksi protes pertama kali pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS. Demonstrasi dan gerakan solidaritas untuk Floyd dan anti-rasisme secara keseluruhan bahkan turut berlangsung di sejumlah negara Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.

Trump lantas mengancam akan mengerahkan pasukan aktif bahkan di negara bagian yang menentang penggunaan militer. Ancaman ini memicu peringatan dari militer dan Kongres. Salah satu petinggi Partai Republik bahkan memperingatkan hal itu dapat membuat tentara menjadi pion politik.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait