Terungkap 3 Alasan Jatim 'Panen Besar' Kasus Meninggal Corona, Risma Sampai Ambruk Menangis
Instagram/dishubsurabaya
Nasional

Jawa Timur, terutama Surabaya, mencatatkan kasus positif sekaligus angka kematian akibat COVID-19 yang tinggi. IDI Surabaya pun mengungkap 3 alasannya, yang sampai membuat Walkot Risma menangis.

WowKeren - Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah kasus meninggal akibat Corona terbanyak di Indonesia. Dilansir dari media resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia, Jatim mencatat sebanyak 831 warganya meninggal dunia, selisih lebih dari 200 angka dengan DKI Jakarta.

Dan hampir mayoritas kasus meninggal itu rupanya dikonfirmasi di Surabaya, seperti disampaikan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya di hadapan Wali Kota Tri Rismaharini pada Senin (29/6).


Dokter Sudarsono menyebut ada 3 alasan mengapa tingkat kematian di Jatim begitu tinggi, bahkan lebih besar indeksnya daripada nasional. Alasan pertama karena banyaknya pasien yang tidak bisa mengakses kamar rawat di RSUD dr Soetomo.

Paparan dari sang dokter pun dilaporkan membuat Risma langsung ambruk dan bersimpuh sembari terisak menangis. Rupanya sang wali kota merasa kinerjanya kurang maksimal dalam menangani wabah Corona di Surabaya.

Selain perkara fasilitas medis, ada beberapa alasan lain yang menyebabkan tingkat kematian di Jatim akibat COVID-19 begitu tinggi. Seperti misalnya jumlah ventilator di rumah sakit yang tak sebanding dengan pasien bergejala berat yang tengah dirawat.

Alasan kedua, banyak pasien yang tak bisa mengakses kamar inap di rumah sakit. Pasalnya banyak pasien COVID-19 yang secara gejala klinis sudah sembuh tetapi masih menunggu hasil uji PCR sebanyak 2 kali. Namun ternyata tidak dipulangkannya pasien ini berkaitan dengan klaim pembayaran biaya perawatan sang pasien, seperti penjelasan berikut.

"Proporsi pasien yang harus keluar dan masuk itu tidak sebanding," ungkap Ketua IDI Surabaya, dr. Brahmana SpOG, dilansir dari Kumparan. "Karena banyak pasien yang sudah di PCR 1 kali dan hasilnya negatif, ternyata menurut aturan belum bisa pulang karena menunggu 2 kali PCR."

"Banyak RS khawatir kalau pasien dipulangkan sebelum 2 kali PCR, nanti enggak bisa klaim biaya ke pemerintah. Jadi kami harap bisa dapat solusi di audiensi ini," imbuh Brahmana.

Risma pun kemudian menegaskan pihak Pemkot Surabaya siap membayarkan klaim perawatan pasien COVID-19 meski baru melalui satu kali PCR. "Kalau pasien itu warga Surabaya, kami bayar klaimnya. Dipulangkan saja, nanti kami yang bayar," tegas Risma.

Sedangkan faktor terakhir adalah kondisi yang disebut sebagai "happy hypoxia" alias situasi dimana saturasi oksigen tubuh menurun drastis. Situasi ketika kadar oksigen di dalam tubuh menurun secara drastis ini bahkan kerap dialami oleh pasien tak bergejala sehingga menyebabkan kondisi tubuhnya memburuk dengan cepat.

Kebanyakan pasien yang menjalani isolasi mandiri abai soal saturasi oksigen ini. Sehingga tiba-tiba saturasi oksigennya sudah turun sampai 70 persen dan berpotensi mengganggu kinerja organ vital tubuh.

"Karena itu untuk warga yang isolasi mandiri harus dicek berkala saturasi oksigennya. Kalau di bawah 70 persen, kerja jantung, paru-paru, dan otak sudah terganggu," beber dr. Christrijogo selaku ahli anastesi dalam audiensi tersebut. "Meski dia OTG, kalau saturasinya turun drastis, mereka harus dirujuk ke RS untuk dapat perawatan ventilator."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts