Ancam Bakal Reshuffle, Hal Yang Dikhawatirkan Jokowi Dari Para Menterinya   Terungkap
Nasional
Ancaman Reshuffle Kabinet Jokowi

Kepala Staf Presiden Moeldoko menjelaskan ancaman reshuffle kabinet yang sempat disampaikan Jokowi beberapa waktu lalu.Moeldoko pun menegaskan bahwa apa yang disampaikan Jokowi tersebut bukan main-main belaka.

WowKeren - Isu reshuffle Menteri menjadi bahasan hangat usai Presiden Joko Widodo marah dalam sidang kabinet beberapa waktu lalu. Kepala Staf Presiden Moeldoko lantas menjelaskan ancaman reshuffle kabinet yang disampaikan Jokowi kala itu.

"Memang presiden katakan akan ambil risiko, 'reputasi politik akan saya pertaruhkan'," terang Moeldoko di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (29/6). "Maknanya Presiden ambil langkah contoh untuk bawahan."


Moeldoko pun menegaskan bahwa apa yang disampaikan Jokowi tersebut bukan main-main belaka. Menurut Moeldoko, seluruh Menteri dan kepala lembaga harus memberi respons atas ancaman tersebut. Ia juga mengungkapkan apa yang sebenarnya dikhawatirkan Jokowi dari para Menterinya.

"Para Menteri kepala lembaga harus merespons penekanan yang disampaikan presiden. Presiden pandang perlu adanya semangat bersama atasi COVID-19," kata Moeldoko. "Presiden khawatir para pembantu ada yang merasa saat ini situasi normal. Untuk itu diingatkan, ini peringatan kesekian kali."

Menurut Moeldoko, Jokowi sudah melihat adanya sejumlah sektor yang masih lemah dalam penanganan pandemi corona. Salah satunya dilihat dari penyerapan anggaran yang masih rendah, seperti sektor kesehatan.

"Walaupun sudah disinggung persoalan kesehatan. Dana yang besar baru terserap 1,53 persen." terang Moeldoko. "Memang setelah kita dalami ada persoalan yang perlu dikomunikasikan lebih cepat lagi, di antaranya bagaimana membangun sinergitas antara BPJS, Pemda dan Menteri Kesehatan."

Sektor kesehatan juga dipantau karena insentif tenaga medis mengalami kendala dari sisi pendataan. Selain itu, sektor kesehatan juga dinilai memiliki permasalahan berupa regulasi yang berbelit-belit.

"Regulasi itu bisa digunakan saat normal tapi saat tidak normal seperti saat ini harus diambil langkah perbaikan dan menteri sudah ambil langkah itu," pungkas Moeldoko. "Hal-hal seperti ini pasti akan menjadi penghambat menteri bekerja. Tapi sekali lagi persoalannya bagaimana cara- cara baru untuk siasati perlu dilakukan."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts