Terungkap Penyebab Risma Sujud Minta Maaf di Depan IDI, Berawal dari Curhatan Dokter Soal RS Rujukan
Instagram/trirismaharini01
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Ketua Pinere RSUD dr Soetomo, dr Sudarsono mulanya memaparkan kondisi rumah sakit yang kelebihan kapasitas sehingga menyebabkan pasien tak bisa mendapatkan perawatan maksimal.

WowKeren - Momen saat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bersujud di depan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan menangis minta maaf menuai sorotan. Momen ini bahkan membawa nama Risma menjadi trending topic di linimasa Twitter.

Ketua Pinere RSUD dr Soetomo, dr Sudarsono pun menceritakan awal mula penyebab Risma bersujud. Mulanya, Sudarsono memaparkan kondisi rumah sakit rujukan di Surabaya yang sudah melebihi kapasitas.


Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab banyaknya pasien meninggal dunia. Sudarsono kemudian menjelaskan ada dua macam penyebab pasien COVID-19 meninggal dunia.

"Pasien yang meninggal itu ada dua. Pasien meninggal setelah mendapatkan perawatan yang optimal, sudah ventilator macem-macam," kata Sudarsono di Balai Kota, Senin (29/6). "Tapi karena orangnya sudah tua, komorbid-nya banyak, dia meninggal."

Lalu yang kedua adalah pasien yang tidak mendapatkan perawatan maksimal akibat kondisi RS yang kelebihan kapasitas. Kondisi overload menyebabkan RS tak mampu menampung pasien.

"Saya itu tiap malam dikonsultasi dokter-dokter jaga di rumah sakit, 'dok mohon maaf saya konsul nggeh, kayak gini bagaimana'," kata Sudarsono. "Ini PDP masuk dirawat, 'Enggak ada tempat dok, rujuk enggak ada tempat', Itu RS seperti itu, pasien mati sia-sia, karena memang overload.'"

Sudarsono juga tak bisa menahan tangis ketika sejumlah rekannya meninggal saat bertugas. Kondisi ini ironis dengan apa yang terjadi di luar, dimana masih ada masyarakat yang bandel dalam menaati protokol kesehatan.

"Saya nangis, di poli ada pasien nangis-nangis minta dicarikan tempat, saya nangis, gimana ya gak ada tempat," kata Sudarsono. "Saya juga nangis melihat teman-teman saya berguguran, melihat perawat juga melihat masyarakat yang seperti ini."

Menurutnya, Risma sudah bekerja keras untuk mencegah penularan COVID-19. Namun ironisnya langkah Pemkot yang satu ini tak sejalan dengan sikap masyarakat yang masih kurang memiliki empati.

"Usaha Bu Risma sudah sangat bagus," lanjut Sudarsono. "Cuma saya melihat, di daerah itu, di jalan-jalan kecil itu masih ada warung kopi, anak-anak muda (ramai)."

Mendengar pernyataan-pernyataan Sudarsono, Risma menjawab, "Mohon maaf Pak Sudarsono, saya memang goblok, nggak pantas saya jadi Wali Kota Surabaya," ujarnya sambil menangis.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts