Rentan Terpapar COVID-19, Gugus Tugas Minta Pegawai dengan Komorbid Tak Ngantor
Nasional
Skenario New Normal COVID-19

Untuk mendukung upaya ini, Doni meminta para pimpinan lembaga maupun perusahaan untuk mengatur agar para pegawai yang komorbid tetap bisa bekerja tanpa harus datang ke kantor.

WowKeren - Sejumlah aktivitas perkantoran sudah mulai beroperasi secara bertahap seiring dengan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo meminta agar pekerja yang memiliki penyakit penyerta lain atau komorbid tidak bekerja dulu di kantor.

Sebab, kelompok semacam ini lebih rentan terpapar virus. Oleh sebab itu, ia mengingatkan agar mereka lebih berhati-hati saat keluar rumah. "Oleh karenanya kelompok rentan ini selalu kita ingatkan agar berhati-hati untuk melakukan kegiatan di luar rumah," ujar Doni di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (29/6).


Untuk mendukung upaya ini, Doni meminta para pimpinan lembaga maupun perusahaan untuk mengatur agar para pegawai yang komorbid tetap bisa bekerja tanpa harus datang ke kantor. Hal ini untuk menekan potensi mereka tertular COVID-19.

"Demikian juga para pimpinan, para pejabat yang ada agar bisa mengetahui anak buahnya karyawannya," lanjut Doni. "Yang punya potensi penyakit-penyakit untuk tidak diberikan kesempatan dulu ke kantor. Cukup bekerja dari rumah."

Ia juga menjelaskan jika sebagian besar kematian pasien COVID-19 disebabkan oleh komorbid. Beberapa di antaranya yakni hipertensi, penyakit ginjal, diabetes, kanker, hingga asma.

Sehingga semakin banyak orang komorbid tinggal di rumah maka akan dapat menghindari risiko penyelamatan. "Berarti apabila ini dilakukan kita bisa mengurangi risiko masyarakat yang punya komorbid ini untuk bisa selamat," lanjut Doni.

Di Surabaya, mayoritas pasien yang meninggal juga diketahui memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya, Febria Rachmanita menjelaskan jika dari 328 orang meninggal, 300 pasien diantaranya memiliki penyakit penyerta.

"Penyakit penyerta yang tertinggi itu diabetes mellitus (DM)," kata Feny saat ditemui di rumah Dinas Wali Kota, Jalan Sedap Malam Surabaya pada Selasa (16/06). "Hipertensi, komplikasi DM dan hipertensi, serta penyakit jantung."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts