AS Jual Obat COVID-19 Seharga 33 Juta Rupiah Per Pasien
Dunia
Pandemi Virus Corona

Meski mahal, namun harga obat itu sedikit di bawah kisaran USD 2.520-2.800 yang disarankan oleh kelompok riset penetapan harga obat AS Institute for Clinical and Economic Review (ICER) pekan lalu.

WowKeren - Perusahaan Gilead Sciences Inc mematok harga obat remdesivir, yang digunakan sebagai salah satu pengobatan COVID-19, sebesar USD 2.340 atau setara dengan Rp33 juta per pasien untuk negara-negara kaya. Perusahan setuju untuk mengirimkan hampir semua pasokan obatnya ke Amerika Serikat selama tiga bulan ke depan.

Remdesivir diperkirakan mendapat permintaan tinggi karena menjadi satu-satunya pengobatan yang sejauh ini terbukti menghambat COVID-19. Setelah obat yang diberikan lewat pembuluh darah itu membantu rumah sakit mempersingkat waktu pemulihan dalam uji klinis, remdesivir mendapatkan otorisasi penggunaan darurat di Amerika Serikat dan persetujuan penuh di Jepang.


Harga obat itu sedikit di bawah kisaran USD 2.520-2.800 yang disarankan oleh kelompok riset penetapan harga obat AS Institute for Clinical and Economic Review (ICER) pekan lalu. Hal itu terjadi setelah para peneliti Inggris menemukan dexamethasone steroid yang murah dan secara signifikan menurunkan angka kematian di antara pasien COVID-19 parah.

Dalam sebuah surat terbuka, Kepala Eksekutif Gilead Daniel O'Day mengatakan harganya jauh di bawah nilai yang diberikan mengingat bahwa pengeluaran rumah sakit di awal dapat menghemat sekitar USD 12 ribu per pasien di Amerika Serikat.

Pengacara pasien berpendapat bahwa biayanya harus lebih rendah karena remdesivir dikembangkan dengan dukungan keuangan dari pemerintah AS. Sementara perwakilan AS Lloyd Doggett, seorang Demokrat dari Texas, mengatakan harga yang keterlaluan untuk obat yang sangat sederhana.

Di sisi lain, remdesivir sendiri diyakini paling efektif dalam mengobati pasien lebih awal daripada dexamethasone, yang mengurangi kematian pada pasien yang membutuhkan bantuan oksigen dan mereka yang menggunakan ventilator. Namun, remdesivir dalam formulasinya saat ini, hanya digunakan pada pasien yang kondisinya tak terlalu parah.

Remdesivir menunjukkan manfaat sederhana pada pasien COVID-19 tingkat sedang, yang diberi obat tersebut selama lima hari. Sementara itu, mereka yang menerima remdesivir selama 10 hari dalam riset tersebut tidak mendapatkan hasil sebaik itu.

Remdesivir, yang lazim digunakan untuk Ebola, dinyatakan mampu mempersingkat waktu penyembuhan hingga sepertiganya. Kemudian perbedaan dalam rata-rata kematian secara statistik tidak signifikan, berdasarkan percobaan yang dilakukan di AS.

Obat yang dimasukkan melalui injeksi (suntikan) itu dilaporkan sudah tersedia untuk sejumlah pasien yang masuk dalam uji klinis di seluruh dunia. Sementara itu, cara kerja remdesivir adalah masuk ke dalam genom virus yang diincar, dan kemudian memutus proses replikasi dirinya.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts