Banyak Tenaga Medis Terpapar dan Jadi Korban Corona, Menkes Terawan Dorong Hal Ini
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebelumnya sempat menyatakan bahwa tingkat kematian tenaga medis akibat COVID-19 di Indonesia merupakan yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

WowKeren - Banyak tenaga medis Indonesia yang terpapar virus corona (COVID-19). Bahkan, jumlah tenaga medis yang meninggal dunia akibat pandemi corona juga tidak sedikit.

Melansir Kumparan pada Selasa (30/6), sudah ada 40 orang dokter yang meninggal dunia akibat COVID-19. Selain itu, 27 orang perawat juga sudah menjadi korban jiwa COVID-19.


Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto lantas menekankan pentingnya penggunaan telemedicine di masa pandemi ini. "Aplikasi bernama sehat media merupakan strategi inovasi dalam peningkatan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat," tutur Terawan dalam webinar yang digelar Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Selasa (30/6).

Meski demikian, Terawan mengakui bahwa program ini masih membutuhkan sejumlah perbaikan. Di antaranya adalah tersusunnya regulasi terkait pelayanan kesehatan digital demi safety dari pasien. "Telemedicine Indonesia juga berfungsi membangun ekosistem digital bidang kesehatan," terang Terawan.

Dengan penggunaan telemedicine ini, tenaga medis maupun pasien yang mengunjungi rumah sakit dapat mencegah penularan COVID-19. Oleh sebab itu, Terawan mendorong agar seluruh rumah sakit ataupun fasilitas kesehatan (faskes) lain menggunakan metode telemedicine ini.

"Guna mencegah penularan COVID-19 tenaga medis serta pasien yang berkunjung ke rumah sakit," pungkas Terawan. "Kementerian Kesehatan juga mengimbau rumah sakit-rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk mengembangkan dan menggunakan semakin masif pelayanan kesehatan jarak jauh atau telemedicine."

Sebagai informasi, telemedicine adalah teknologi yang memungkinkan pasien untuk berdiskusi dengan dokter secara privat tanpa harus bertatap muka secara langsung. Salah satu contoh penggunaan telemedicine yang telah banyak dilakukan di Indonesia adalah fitur chat langsung dengan dokter melalui aplikasi tertentu. Dengan fitur tersebut, pasien dapat bebas berdiskusi dengan dokter tanpa harus bertemu langsung, sehingga mengurangi risiko penularan COVID-19.

Di sisi lain, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebelumnya sempat menyatakan bahwa tingkat kematian tenaga medis akibat COVID-19 di Indonesia merupakan yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara. "Secara persentase, di dunia kita termasuk yang paling tinggi, karena angka negara-negara lain hanya sekitar 1 persen. Apalagi di ASEAN, kita paling tinggi," terang Wakil Ketua Umum PB IDI, dr Adib Khumaidi.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts