Ratusan Keluarga Korban Tuntut Penyelidikan, PM Inggris Sebut Virus Corona adalah Bencana Besar
Getty Images
Dunia
Pandemi Virus Corona

Sekitar 450 keluarga pasien meninggal akibat COVID-19 menuntut penyelidikan publik. Keluarga pasien menuntut adanya peninjauan terhadap langkah-langkah untuk meminimalisir dampak pandemi.

WowKeren - Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan bahwa pandemi virus corona (COVID-19) adalah bencana bagi Inggris. Tak hanya memakan banyak korban jiwa, pandemi ini juga mengguncang stabilitas ekonomi di negara monarki tersebut. Belum lagi banyaknya keluarga korban yang menuntut penyelidikan.

"Ini telah menjadi bencana, mari jangan pelintir kata-kata kami, yang saya maksud krisis ini benar-benar menjadi mimpi buruk bagi negeri dan negara ini telah mengalami guncangan besar," kata Boris Johnson.


Sebelumnya sekitar 450 keluarga orang yang meninggal karena pandemi virus corona menuntut penyelidikan publik. Pada 12 Juni lalu, BBC melaporkan keluarga pasien yang meninggal dunia menuntut adanya peninjauan terhadap langkah-langkah untuk meminimalisir dampak pandemi.

Mereka juga meminta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan krisis virus corona. Pengacara keluarga korban, Elkan Abrahamson, mengatakan penyelidikan penuh akan dilakukan nanti. Sementara pemerintah Inggris menegaskan fokus mereka saat ini masih menanggulangi pandemi.

Seruan penyelidikan ini muncul setelah Kantor Audit Nasional (NAO) Inggris merilis laporan kesiapan badan kesehatan publik (National Health Service) dalam menghadapi pandemi. Dalam laporan tersebut disebutkan tidak diketahui berapa banyak dari 25 ribu orang yang dipindahkan dari rumah sakit ke tempat perawatan virus selama puncak wabah terinfeksi virus corona.

Menteri-menteri Inggris menegaskan respons mereka terhadap pandemi berdasarkan saran ilmiah. Tapi bagi keluarga korban tewas akibat pandemi COVID-19, keputusan pemerintah Inggris untuk menutup negeri itu pada 23 Maret terlalu terlambat.

Saat ini, Inggris sendiri telah mencatat sebanyak 311,965 kasus positif COVID-19 yang dikonfirmasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 43,575 pasien dinyatakan meninggal dunia. Saat ini Inggris menempati urutan kelima sebagai negara dengan jumlah kasus COVID-19 terbanyak di dunia.

Di sisi lain, Inggris tengah mengembangkan rangkaian pengujian COVID-19 mingguan dengan menggunakan tes air liur tanpa swab. Pengujian ini diharapkan dapat menghasilkan cara yang lebih mudah, sederhana, dan cepat untuk mendeteksi penyebaran virus corona.

Tes tersebut tidak menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) standar, yang oleh ahli disebut dapat meloloskan kasus akibat kesalahan dalam pengambilan sampel dari belakang tenggorokan menggunakan alat nasopharyngeal swab.

Sebaliknya, Inggris menggunakan sebuah teknik berbeda yang disebut sebagai RT-Lamp dalam percobaan tes liur ini, yang menurut pemerintah terbukti sangat menjanjikan. Program percontohan itu akan melibatkan validasi lebih jauh terkait teknik RT-Lamp terhadap usap PCR.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts