Jokowi Kunjungi Jateng, Gubernur Ganjar Ungkap Mayoritas Pasien Corona Meninggal Disebabkan Oleh Ini
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Kondisi Jateng sendiri bisa dibilang mengkhawatirkan dalam beberapa hari terakhir ini. Pasalnya, pertumbuhan kasus COVID-19 melesat dan konsisten di atas angka 100.

WowKeren - Presiden Joko Widodo mengunjungi Jawa Tengah pada Selasa (30/6) hari ini. Sama seperti kunjungannya ke Jawa Timur pekan lalu, sang Presiden bertujuan untuk memantau penanganan COVID-19 di Jateng.

Kondisi Jateng sendiri bisa dibilang mengkhawatirkan dalam beberapa hari terakhir ini. Pasalnya, pertumbuhan kasus COVID-19 melesat dan konsisten di atas angka 100.


"Kami sampaikan bahwa ini data real time kasus COVID-19 di Jateng," tutur Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam paparannya di hadapan Jokowi. "ODP 50 ribuan, selesai 46.666. PDP 8.683, pasien dirawat 955, sembuh 6.536, meninggal 1192. Positif masih 3.996, dirawat 1.818 sembuh 1.856, meninggal 322."

Menurut Ganjar, adanya lonjakan kasus di Jateng tidak lepas dari pemeriksaan PCR yang meningkat. Ganjar juga mengatakan bahwa angka positivity rate Jateng menurun meski kasus hariannya meningkat.

"Ini terbanyak pada minggu ke-26, salah satunya karena kota Semarang aktif PCR, dan sudah melebihi target," terang Ganjar. "Tapi keseluruhan alhamdulillah tren makin menurun."

Lebih lanjut, Ganjar mengklaim bahwa pemeriksaan spesimen melalui metode PCR di Jateng membutuhkan waktu yang lebih singkat. Yakni maksimal hanya 2 hari.

"Kita sekarang minta lab tak lebih dari 2 hari. Jika butuh pegawai tambahan kita tambah," ungkap Ganjar. "Besok pagi selesai rekrutmen untuk bantu petugas lab."

Sementara itu, terkait kasus kematian akibat COVID-19, Ganjar mengungkapkan salah satu faktornya. Berdasarkan analisis yang diterimanya, Ganjar mengungkapkan bahwa mayoritas pasien COVID-19 yang meninggal menderita hipertensi hingga diabetes.

"Ternyata dari kasus kematian yang tinggi, kami melakukan analisis terhadap riwayat penyakit," ujar Ganjar. Pasien positif COVID-19 yang memiliki riwayat penyakit hipertensi dan diabetes disebut Ganjar lebih mudah mengalami perburukan hingga akhirnya meninggal dunia.

Data Pemprov Jateng mencatat pasien corona yang meninggal dengan riwayat penyakit hipertensi mencapai 39,6 persen, sedangkan pasien dengan riwayat diabetes mencapai 36 persen. Sementara itu, pasien COVID-19 yang meninggal dengan mengidap ginjal kronis, gagal jantung, jantung koroner, asma hingga lainnya berada di angka 5 persen.

"Ternyata tertinggi Pak Presiden itu karena hipertensi, kedua karena diabetes, ketiga karena ginjal kronis. Lalu ada gagal jantung, asma, stroke, dan lain-lain," pungkas Ganjar. "Ini kondisi yang mereka kemudian sangat cepat prosesnya dan membutuhkan perhatian. Maka identifikasi sejak awal ini yang kita lakukan."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts