Dukung Jokowi Reshuffle Kabinet Sekarang, Pakar: Mumpung 2024 Tidak Ada Beban
Nasional
Ancaman Reshuffle Kabinet Jokowi

Ancaman Jokowi terkait reshuffle kabinet ini lantas mendapatkan dukungan dari pakar tata negara, Refly Harun. Menurut Refly, Jokowi kini sudah mulai gerah dengan para Menteri yang tidak bekerja dengan efektif.

WowKeren - Kemarahan Presiden Joko Widodo kepada para Menterinya membuat isu reshuffle kabinet menjadi perbincangan panas. Jokowi menuntut Menteri-Menterinya untuk menunjukkan kualitas kerja yang lebih baik di masa pandemi corona (COVID-19) ini.

Ancaman Jokowi terkait reshuffle kabinet ini lantas mendapatkan dukungan dari pakar tata negara, Refly Harun. Menurut Refly, Jokowi kini sudah mulai gerah dengan para Menteri yang tidak bekerja dengan efektif.


Refly menilai hal tersebut bisa terjadi karena para Menteri tidak dipilih langsung oleh Jokowi, melainkan disodorkan partai politik koalisi. Ia menyebut bahwa Jokowi terksesan didikte oleh parpol dalam periode kedua pemerintahannya ini.

"Banyak sekali pembantu Presiden Jokowi dalam periode kedua tapi kinerjanya tidak efektif, karena Presiden Jokowi tidak terapkan sistem presidensial," terang Refly dilansir Kumparan pada Selasa (30/6). "Pada periode kedua, terkesan Jokowi didikte parpol-parpolnya, padahal periode pertama lebih baik."

Oleh sebab itu, Refly menyarankan agar Jokowi segera merombak kabinet. Pasalnya, Jokowi sudah tidak memiliki beban politik di Pilpres 2024 mendatang, mengingat sang Presiden telah menjabat selama 2 periode.

"Kalau mau rombak (kabinet) secara fundamental inilah saatnya, mumpung 2024 tidak ada beban," kata Refly. "Beri rakyat legacy atau warisan yang baik."

Lebih lanjut, Refly berharap apabila nantinya Jokowi benar-benar merombak kabinet, sang Presiden memilih orang-orang yang terbaik di bidanganya. Bukan orang- orang titipan parpol.

"Cari orang yang tulus, lurus, mau kerja keras, tidak buru rente ketika menjabat," pungkas Refly. "Mudah-mudahan Presiden Jokowi mau cari orang-orang yang betul mendedikasikan dirinya untuk negara, bukan orang-orang yang ingin bertahan di jabatan dengan cara apa pun asal presiden senang."

Di sisi lain, video Jokowi mengungkapkan kemarahannya di Sidang Kabinet menuai banyak sorotan. Pakar bahasa tubuh dan mikroekspresi Monica Kumalasari menilai Jokowi bicara secara spontan tanpa teks selain mungkin catatan berisi poin-poin catatan pribadinya. Sehingga ekspresi yang terbentuk di raut wajah kepala negara adalah sesuatu yang asli.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts