Dulu Sempat Langka, Kini RI Diklaim Bisa Ekspor Masker Sampai 2,7 Miliar Lembar
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Di tengah pandemi virus Corona, Indonesia pernah mengalami krisis alat pelindung diri (APD), termasuk masker bedah sekali pakai. Namun kekinian kapasitas produksi sudah meningkat sampai berpotensi diekspor.

WowKeren - Indonesia sempat mengalami kelangkaan alat pelindung diri (APD) termasuk masker sekali pakai. Pemerintah pun mengambil jalan tengah melarang segala bentuk ekspor masker dan meningkatkan produksi dalam negeri.

Kekinian Indonesia tampaknya sudah berhasil mengatasi kelangkaan itu. Bahkan Kementerian Perdagangan baru-baru ini mencatat potensi ekspor masker bedah sampai 2,7 miliar lembar karena turunnya kebutuhan dalam negeri.


Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Srie Agustina mengatakan kapasitas produksi nasional sekitar 2,8 miliar lembar. Sementara, kebutuhan nasional diperkirakan hanya 129,8 juta lembar.

"Jadi bisa dipastikan produksi sudah memenuhi kebutuhan nasional," ujar Srie dalam acara sosialisasi virtual ekspor bahan baku masker, masker, dan APD, Selasa (30/6). "Sehingga ada potensi besar untuk ekspor."

Kemendag pun mencatat adanya potensi ekspor masker bedah jenis lain yang tak kalah besar, yakni mencapai 95 juta lembar. Sebab kebutuhan dalam negeri hanya mencapai 3,2 juta lembar sedangkan kapasitas produksi sampai 98,2 juta lembar.

Sedangkan potensi ekspor APD mencapai 390,1 juta APD. Proyeksi muncul dari kapasitas produksi nasional sekitar 398,6 juta APD dikurang kebutuhan dalam negeri sekitar 8,5 juta APD.

Atas fakta-fakta itulah Kemendag sudah menarik kembali larangan ekspor bahan baku masker, masker, dan APD. "Maka pemerintah merasa perlu dilakukan relaksasi terhadap kebijakan larangan sementara ekspor," terang Srie, dilansir dari Kumparan pada Rabu (1/7).

Termasuk pula memberikan izin untuk ekspor hand sanitizer, sementara untuk bahan baku APD harus dengan persetujuan ekspor (PE). Sedangkan untuk ekspor etil alkohol diatur dalam beleid berbeda dan disesuaikan dengan pengaturan ekspor impor golongan bahan bakar.

Lantas apakah ini berarti kesadaran masyarakat Indonesia untuk menggunakan masker begitu rendah? Bila merujuk pada kondisi di lapangan, saat ini daerah-daerah yang sudah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi maupun new normal mewajibkan penggunaan masker.

Hanya saja memang pemerintah menganjurkan masyarakat awam menggunakan masker kain alih-alih masker sekali pakai atau masker bedah. Selain untuk memfokuskan masker bedah bagi kalangan tenaga medis, harapannya limbah APD pun akan berkurang karena masyarakat awam tak ikut memakainya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts