RS Dinilai Bisa Ambil Untung Dari Tes PCR Corona, Pemerintah Didesak Lakukan Ini
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai jika sejumlah rumah sakit terlalu diuntungkan dengan tes PCR COVID-19, Pemerintah Indonesia didesak segera lakukan ini.

WowKeren - Indonesia telah menggunakan swab test Polymerase Chain Reaction (PCR) sebagai metode utama untuk mendeteksi seseorang tertular virus corona (COVID-19) atau tidak. Sayang, metode swab test PCR ini sendiri cukup mahal hingga jutaan rupiah untuk sekali tes.

Mahalnya swab test PCR diduga karena bahan kimia yang dibutuhkan untuk melakukan tes tersebut, yakni reagen cukup sulit didapatkan. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai jika tingginya harga tes PCR telah menyulitkan masyarakat di tengah pandemi, khususnya bagi mereka yang ingin memeriksakan diri.


Anggota Komisi IX DPR, Rahmad Handoyo lantas mendesak Pemerintah Indonesia segera mengambil langkah untuk menangani masalah tersebut. Ia meminta agar pemerintah bertindak powerful dalam pengadaan reagen di masa krisis ini.

Menurut Rahmad, kejelasan dan ketegasan pemerintah dalam pengadaan reagen perlu dilakukan demi menghindari ulah sejumlah pihak yang tidak bertanggung jawab. Terlebih, ia meniai jika mahalnya tes PCR sejauh ini tidak terlepas dari ulah beberapa rumah sakit yang berusaha memanfaatkan momen wabah COVID-19 untuk meraup keuntungan.

”Saya mengatakan negara harus powerful,” kata Rahmad Handoyo dalam siaran pers kepada wartawan di Jakarta, Rabu (1/7). “Agar tak ada pihak-pihak yang aji mumpung, meraup keuntungan di tengah pandemi ini.”

”Dugaan itu mungkin saja benar,” sambungnya. “Mengingat tarif yang dipatok rumah sakit swasta atau poliklinik yang melayani tes PCR mandiri disparitas harga berbeda-beda.”

Rahmad mengingatkan dalam situasi krisis seperti saat ini, pebisnis tidak boleh mencari untung yang tidak masuk akal. Ia menekankan pentingnya seluruh pihak untuk saling tolong-menolong meringankan beban masyarakat agar Indonesia dapat segera bangkit dari pandemi virus corona.

Terlepas dari itu, Rahmad juga mengakui jika reagen memang relatif mahal dan sulit diperoleh. Apalagi, saaat ini bahan kimia tersebut menjadi rebutan negara-negara di dunia yang dilanda badai COVID-19. Indonesia sendiri masih mengimpor reagen dari negara produsen, yakni Korea Selatan dan Tiongkok.

”Makanya saya katakan, negara harus powerful dalam pengadaan reagen,” tegas Rahmad. “Karena bahan kimia yang sangat vital tersebut selalu dibuat sebagai alasan sehingga biaya tes PCR mahal.”

”Reagen itu memang mahal dan sulit dicari sehingga pihak swasta juga diizinkan untuk mengimpor,” sambungnya. “Karena itulah pemerintah harus hadir, memperhatikan besaran tarif tes PCR yang dipatok rumah sakit.”

Mahalnya harga tes PCR juga dinilai Rahmad dapat menciptakan situasi yang cukup membahayakan. Pasalnya, masyarakat yang mengalami gejala COVID-19 tentunya tidak akan melakukan tes PCR secara mandiri karena terlalu mahal sehingga berpotensi menyebarkan virus karena tidak ditangani dengan cepat.

“Akibat krisis ini, banyak masyarakat yang merasa berat,” tutur Politikus PDIP ini. “Akhirnya mereka lebih memilih membayar biaya rapid test yang jauh lebih murah dibanding tarif tes PCR yang mencapai dua hingga tiga jutaan (rupiah).”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts