Dulu Dukung New Normal, Kini WHO Minta Negara Pertimbangkan Ulang Lockdown
Dunia
Pro-Kontra Lockdown

WHO meminta kembali negara-negara mempertimbangkan opsi lockdown demi mengendalikan wabah Corona yang diklaim semakin mengkhawatirkan beberapa waktu belakangan.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus memberikan rekomendasi bagi setiap negara dalam menangani pandemi virus Corona. Seperti beberapa waktu lalu WHO sudah mengizinkan sejumlah negara melonggarkan pembatasan aktivitasnya karena dianggap sudah mampu mengendalikan wabah.

Namun baru-baru ini WHO justru memunculkan kembali opsi lockdown. Hal ini didasarkan pada fakta beberapa negara yang sempat diklaim berhasil melawan wabah Corona kini justru kembali dibuat pusing oleh serangan gelombang kedua.


"Beberapa negara yang telah berhasil menekan transmisi dan buka kembali, sekarang mungkin mengalami kemunduran," ungkap Kepala Unit Penyakit dan Zoonosis WHO, Dr Maria Van Kerkhove, dilansir CNBC, Kamis (2/7). "(Pemerintah negara itu) mungkin harus melakukan intervensi lagi, Mungkin harus melakukan apa yang kita sebut 'lockdown' lagi."

Hanya saja WHO tak menyebutkan dengan tegas negara-negara mana yang sebaiknya kembali menerapkan lockdown. Namun memang saat ini ada beberapa negara yang kembali dibuat geger oleh penyakit COVID-19, padahal sebelumnya sudah berhasil mengatasi bahkan sampai mencatatkan nihil kasus baru selama beberapa hari berturut-turut.

Lebih lanjut, Kerkhove juga menyebutkan hanya ada beberapa negara yang mampu merespons perkembangan saat ini dengan efektif. Negara ini mampu karena pernah berhadapan dengan pandemi serupa di masa lalu, seperti SARS pada 2002 silam maupun MERS pada pertengahan 2010-an.

Kendati demikian, pengalaman itu pun bukan kunci utama untuk bisa mengendalikan wabah penyakit yang masih "bersaudara" dengan SARS dan MERS ini. Oleh karenanya Kerkhove mengingatkan belum terlambat apabila negara hendak mengintervensi kembali pengendalian wabah dengan menggunakan kebijakan lockdown.

"Belum terlambat untuk membalikkan keadaan," tegas Kerkhove. "Kami melihat negara-negara yang berada dalam situasi luar biasa bisa membalikkan keadaan. Belum terlambat menggunakan pendekatan komprehensif ini."

Kebijakan lockdown memang diklaim memberikan dampak positif dalam pengendalian wabah, bahkan diklaim menyelamatkan sampai 3 juta nyawa di Eropa. Hanya saja kebijakan ini juga sangat berdampak terhadap perekonomian karena aktivitas masyarakat benar-benar "dilumpuhkan" demi mencegah terjadinya penularan virus.

Atas dasar itulah Amerika Serikat, sebagai negara yang paling dibuat "babak belur" oleh pandemi Corona menolak memberlakukan kembali lockdown sekalipun gelombang kedua menyerang. Indonesia pun di sisi lain juga sudah perlahan mengadaptasikan era tatanan hidup baru new normal di tengah pandemi Corona.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts