Mark Zuckerberg Optimis Gerakan Boikot Facebook Akan Segera Berakhir
Dunia

Ratusan perusahaan memulai aksi boikot memasang iklan di Facebook. Hal itu lantaran Facebook dianggap tak banyak melakukan aksi melawan rasisme di platform mereka.

WowKeren - CEO Facebook, Mark Zuckerberg, meyakini gerakan boikot yang dilakukan oleh para pengiklan di platform media sosial ciptaannya akan segera berakhir.

Dalam keterangannya, Zuckerberg melihat bahwa pemboikotan yang sudah diikuti sejumlah perusahaan dan merek ternama itu adalah masalah kehumasan daripada ancaman serius. Oleh sebab itu ia tak merencanakan respons besar.

"Kami tidak akan mengubah kebijakan atau pendekatan kami pada apa pun karena ancaman terhadap sebagian kecil dari pendapatan kami atau berapa pun persen dari pendapatan kami," kata Zuckerberg. "Dugaan saya adalah semua pengiklan ini akan segera kembali ke platform," ujarnya.

Hal serupa juga diucapkan oleh seorang juru bicara Faebook, yang menilai bahwa mereka telah menangani masalah ini dengan sangat baik dan percaya kalau para mitra akan kembali memasang iklan di platform mereka lagi.


"Kami menangani masalah (pemboikotan) ini dengan sangat serius dan menghargai respons dari mitra kami. Kami membuat kemajuan nyata menjaga ujaran kebencian tetap tersisih dari platform kami dan kami tidak mendapat manfaat dari konten semacam ini. Tapi seperti yang kami katakan, kami membuat perubahan kebijakan berdasarkan prinsip, bukan tekanan pendapatan," ucapnya.

Pada Rabu (1/7) lalu, lebih dari 500 perusahaan secara resmi memulai aksi boikot memasang iklan di Facebook. Hal itu lantaran Facebook dianggap tidak banyak melakukan aksi untuk melawan rasisme dan juga pidato kebencian yang ada di platform mereka. Facebook diketahui tidak menghapus unggahan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menembak para demonstran anti-rasisme. Selain itu, laman tersebut juga terus menjadi tempat penyebaran informasi yang tidak akurat.

Adidas, Ford, Honda, Verizon, Diageo, dan Unilever adalah beberapa perusahaan yang bergabung dalam aksi tersebut. Starbucks dan Coca-Cola juga telah menghentikan semua iklannya di Facebook. Namun kedua perusahaan itu tidak secara resmi mengumumkan dukungannya terhadap kampanye.

Sebagai informasi tambahan, kelompok-kelompok hak-hak sipil AS seperti Anti-Defamation League, NAACP, dan Color of Change memulai kampanye Stop Hate for Profit setelah kematian Floyd, seorang pria kulit hitam yang meninggal di bawah cekikan leher polisi kulit putih bulan lalu.

Kelompok-kelompok tersebut menguraikan 10 tuntutan untuk Facebook. Tuntutan itu termasuk mengizinkan orang-orang yang mengalami pelecehan parah untuk berbicara dengan karyawan Facebook dan memberikan pengembalian uang kepada merek yang iklannya muncul di samping konten ofensif yang kemudian dihapus.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts