Australia Beli Rudal Jarak Jauh Usai Kisruh dengan Tiongkok
Dunia

PM Australia Scott Morrison menyampaikan soal program pembaruan besar-besaran terhadap strategi pertahanan negara, termasuk pembelian rudal anti-kapal jarak jauh dari AS untuk melengkapi armada mereka.

WowKeren - Australia memutuskan akan membeli rudal jarak jauh anti-kapal, menyusul meningkatnya ancaman dari kekuatan asing, termasuk dari Tiongkok. Hal ini disampaikan secara langsung oleh Perdana Menteri Australia, Scott Morrison.

Dalam pernyatannya, Morrison menyampaikan soal program pembaruan besar-besaran terhadap strategi pertahanan negara, termasuk pembelian rudal anti-kapal jarak jauh dari Amerika Serikat, untuk melengkapi armada jet tempur Boeing F/A-18E/F Super Hornets.


Australia juga berencana membeli rudal jarak jauh yang dapat diluncurkan dari darat, termasuk rudal hipersonik yang bisa menempuh lima kali kecepatan suara. Morrison menyebut upaya perbaikan pertahanan dan kemampuan serang dilakukan untuk mempertahankan Australia dan sekutunya melawan sejumlah ancaman.

Dalam pidatonya di Akademi Angkatan Pertahanan Australia di Canberra, Morrison mengatakan Australia harus menghadapi kenyataan bahwa negaranya telah pindah ke era strategis baru dan kurang ramah. Dia menambahkan, meningkatnya ketegangan dengan negara lain membuat Australia harus mampu menahan pasukan musuh dari jarak yang lebih jauh.

"Ini termasuk mengembangkan kemampuan di bidang-bidang seperti senjata serangan jarak jauh, kemampuan dunia maya, dan sistem pengamanan wilayah," kata Morrison, sebagaimana dikutip dari CNN pada Selasa (7/7).

Rudal baru itu diharapkan lebih canggih dari rudal anti-kapal Harpoon yang mereka miliki saat ini. Harpoon diperkenalkan pada awal 1980-an dan hanya memiliki jangkauan 124 kilometer.

Morrison mengatakan ketegangan atas klaim territorial meningkat di kawasan Indo-Pasifik, termasuk bentrokan perbatasan yang disengketakan antara India dan Tiongkok, Laut Tiongkok Selatan, dan Laut Tiongkok Timur. "Risiko salah perhitungan dan bahkan konflik semakin tinggi," kata Morrison.

Oleh karena itu ia ingin Australia menyiapkan diri dan melakukan langkah antisipasi sebelum terjadinya konflik. "Jepang, India, Republik Korea, negara-negara Asia Tenggara, dan Pasifik semuanya memiliki peranan-beberapa pilihan untuk membuat dan ambil bagian untuk bermain. Begitu juga Australia," kata Morrison.

Sebagai informasi tambahan, belakangan ini hubungan Australia dan Tiongkok tengah merenggang. Hal ini dipicu oleh kecurigaan Tiongkok terkait asal-usul pandemi virus corona, sehingga Negeri Kanguru tersebut menyerukan penyelidikan independen ke Wuhan, yang menjadi episentrum COVID-19.

Namun seruan Australia tersebut ditanggapi Tiongkok dengan dingin lantaran dianggap tak menghargai negara mereka. Tiongkok bahkan memboikot sejumlah barang impor dari Australia, padahal sebelumnya kedua negara adalah mitra dagang.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts