Ini Kata IDI Soal Istri KSAD Pakai Masker Seharga Rp22 Juta
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Istri KSAD Jenderal Andika Perkasa, Diah Erwiany sempat membuat heboh lantaran memakai masker seharga Rp22 juta. Ini tanggapan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

WowKeren - Istri KSAD Jenderal Andika Perkasa, Diah Erwiany sempat menggegerkan publik setelah memakai masker canggih dengan harga selangit, yakni Rp22 juta. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun turut menanggapi pemakaian masker tersebut.

Masker yang dipakai Diah itu merupakan masker respiratori dengan merek Halo yang merupakan buatan dari perusahaan CleanSpace Technology. Fischer Scientific yang berbasis di Australia dan Singapura menjadi produsen masker tersebut, dimana sasarannya adalah tenaga medis. Masker itu tidak diproduksi di Indonesia.


Meski tidak diproduksi di Indonesia, namun ada juga importir yang turut menjual produk masker istri KSAD tersebut. Importir tersebut bernama Bless Indo yang memiliki kantor di Bandung, Jawa Barat.

IDI lantas mengatakan jika banyak dokter di Indonesia yang memesan masker tersebut melalui Bless Indo. IDI menilai jika masker tersebut memang berteknologi tinggi dan memiliki filter khusus yang efektif dalam menahan partikel ultrakecil seperti virus corona.

Melihat fungsi masker tersebut yang memiliki kualitas tinggi tersebut bagi pemakainya, IDI mengakui jika harganya memang mahal dengan berkisar Rp22-25 juta per masker.

IDI juga menyatakan jika penggunaan masker respiratori memang lebih nyaman. Terlebih, masker tersebut tidak bersifat sekali pakai dan bisa dicas berulang-ulang.

Oleh sebab itu, IDI menyatakan jika masker tersebut sangatlah direkomendasikan untuk para tenaga medis yang bekerja di ruang isolasi. Masker tersebut diklaim dapat membuat tenaga medis menjadi lebih aman dari risiko paparan virus corona jika menyebar lewat udara atau airbone.

“Iya proteksinya lebih tinggi. Tapi harganya tergolong mahal," kata Humas IDI Halik Malik seperti dilansir dari Kumparan, Selasa (7/7). “Kita rekomendasikan di ruang isolasi. Terutama di ruang ICU isolasi untuk tindakan yang berisiko terhadap paparan aerosol/airborne.”

Meski demikian, IDI mengatakan jika Gugus Tugas COVID-19 belum merencanakan program pengadaan masker tersebut. Sebagai gantinya, Halik mengatakan masker N95 menjadi alternartif terbaik tenaga medis. “Ya masker jenis N95 biasa juga dipakai oleh tenaga medis yang merawat pasien COVID-19 berat atau kritis,” ujar Halik.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts