WHO Sebut Pandemi COVID-19 Sebabkan Krisis Obat HIV
Health
Pandemi Virus Corona

WHO mengatakan ada lebih dari sepertiga negara di dunia yang berisiko kehabisan obat HIV karena gangguan pada jalur pasokan dan masalah lain yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut beberapa negara di dunia yang mengalami krisis ketersediaan obat HIV (ARVs/antiretroviral) karena terjadinya pembatasan obat secara signifikan. Pembatasan obat ini disebabkan pandemi virus corona (COVID-19) yang menyebar di seluruh dunia.

Dilansir The Jakarta Post pada Selasa (7/7), lebih dari sepertiga negara di dunia mengatakan mereka berisiko kehabisan obat AIDS karena gangguan pada jalur pasokan dan masalah lain yang disebabkan oleh pandemi COVID-19. WHO menyatakan dua puluh empat dari 73 negara telah melaporkan pasokan obat antiretroviral vital yang sangat rendah, bahkan nyaris kehabisan stok.


"Temuan survei ini sangat memprihatinkan," kata direktur jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan di konferensi AIDS Internasional pada Senin (7/7).

WHO menyebut sekitar 38 juta orang di seluruh dunia saat ini terinfeksi HIV, dengan sekitar 8,3 juta orang positif HIV bergantung pada obat antiretroviral di 24 negara bagian yang paling parah terkena dampak. Kendati demikian, WHO tidak menyebutkan nama negara yang terkena dampak dalam pengumuman tersebut.

Walaupun sebenarnya tidak ada pengobatan untuk HIV, namun obat yang dikenal sebagai antiretroviral (ARV) dapat mengendalikan virus dan mencegah orang yang positif HIV menularkannya melalui hubungan seks ke orang lain.

WHO mengemukakan bahwa selama wabah COVID-19 yang sedang berlangsung, kegagalan pemasok untuk memberikan ARV tepat waktu, dikombinasikan dengan berkurangnya transportasi darat dan udara secara drastis dan terbatasnya akses ke layanan kesehatan, telah menyebabkan gangguan besar pada pasokan obat-obatan.

WHO sendiri telah mengeluarkan panduan tentang mempertahankan akses ke layanan kesehatan esensial, seperti klinik pengobatan dan pengujian HIV, selama pandemi. Dikatakan otoritas kesehatan harus mempertimbangkan "pengeluaran multi-bulan" untuk obat-obatan AIDS, sebuah kebijakan di mana obat-obatan diresepkan hingga enam bulan.

Di sisi lain, saat ini negara-negara di dunia telah melakukan pelonggaran pembatasan wilayah (lockdown), meskipun tak sedikit yang masih menangguhkan penerbangan. Sebagai informasi tambahan, pandemi virus corona telah menginfeksi lebih dari 11,7 juta jiwa di seluruh dunia. Angka kematian akibat virus ini mencapai lebih dari 540 ribu, dan pasien sembuh menyentuh angka 6,6 juta jiwa. Saat ini, kasus aktif COVID-19 dilaporkan mencapai 4,567,745 pasien.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts