Alat Rapid Test Buatan RI Siap Diproduksi, Menko PMK Usul Harganya Rp 75 Ribu
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Dengan harga yang lebih murah ini, maka diharapkan bisa terjangkau oleh masyarakat luas. Selain itu, usul harga tersebut juga tidak melanggar ketentuan dari Kementerian Kesehatan.

WowKeren - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy optimis jika produk rapid test buatan Indonesia mampu bersaing dengan produk impor. Selain itu, harganya juga relatif lebih murah.

"Saya yakin produk dalam negeri nanti rapid test lebih murah, mampu bersaing," kata Muhadjir di Jakarta, Kamis (9/7). "Dan siap-siap, kalau ada produk luar yang banting harga, kita juga siap-siap banting harga."


Ia pun mengusulkan agar harga alat rapid test dalam negeri tersebut hanya sebesar Rp 75 ribu. Dengan harga yang lebih murah ini, maka diharapkan bisa terjangkau oleh masyarakat luas. Selain itu, usul harga tersebut juga tidak melanggar ketentuan dari Kementerian Kesehatan yang membatasi biaya maksimal untuk rapid test adalah sebesar Rp 150 ribu.

"Maksimum Rp 150.000 harga kita upayakan kita tekan semakin rendah, saya sudah sampaikan kepada kepala BPPT jadi Rp 75.000," tutur Muhadjir. "Ini kan bisa jadi patokan riil di lapangan, kalau ada produk yang harganya di atas ini, kan tidak laku."

Lebih jauh, ia menyebut jika pemerintah akan terus mendukung agar Indonesia bisa memenuhi kebutuhan sendiri dalam menangani pandemi COVID-19, termasuk produk alat kesehatan. Sehingga tidak perlu bergantung dari negara lain.

"Perlu ada revolusi mental," ujar mantan Mendikbud tersebut. "Untuk kita bisa menggunakan secara penuh dengan percaya diri dengan produk dalam negeri."

Hal senada juga dikatakan oleh Presiden Joko Widodo alias Jokowi. Jokowi menegaskan jika Indonesia sudah mampu mencukupi kebutuhan sendiri untuk pemenuhan alat kesehatan sehingga tak perlu mengimpornya dari negara lain.

Seperti diketahui, RI-GHA Covid-19 merupakan alat rapid test yang berada dibawah Kementrian Riset dan Teknologi (Menristek)/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Alat ini telah teruji sensitivitas (98 persen) dan spesifitasnya (96 persen) melalui uji laboratorium terhadap orang Indonesia.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts