STAN Tutup Pendaftaran Mahasiswa Baru 2020, Karena Isu Radikalisme?
Nasional

Beredar rumor yang menyebutkan jika pendaftaran mahasiswa baru STAN 2020 dihentikan karena adanya isu radikalisme. Menanggapi hal ini eks Menteri ESDM Sudirman Said buka suara.

WowKeren - Kementerian Keuangan selaku pengelola Politeknik Keuangan Negara STAN (PKN STAN) memutuskan untuk tidak membuka pendaftaran mahasiswa baru pada tahun 2020. Lantas terdengar selentingan terkait penyebab pendaftaran mahasiswa baru ini ditutup.

Menurut rumor yang beredar penutupan tersebut dikaitkan dengan adanya isu radikalisme. Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2014-2019 Sudirman Said menyayangkan penutupan sementara ini. Apalagi bila benar penutupan tersebut disebabkan isu radikalisme.


“Jika benar penutupan STAN karena isu radikalisme, ini akan jadi skandal bernegara," kata Sudirman dalam keterangan resminya, Sabtu (11/7). "Sejarah akan mencatat kekeliruan pandangan dan kekeliruan langkah ini. Semoga Bu Menteri (Menkeu Sri Mulyani) dan seluruh penentu kebijakan dalam urusan STAN ini sempat memikirkan dalam-dalam."

Ketua Alumni STAN 2014-2016 ini menyatakan orang yang menuduh isu radikalisme di STAN harus belajar membedakan antara gairah beragama (kesalehan), usaha menjaga kelurusan hidup, dan pandangan radikal dalam politik.

Menurutnya, yang memberi stempel radikal lebih banyak mereka yang punya cara pandang politik. Sehingga berbahaya jika cap radikal disematkan ke orang yang rajin beribadah oleh orang yang tidak menjalankan agama dengan baik, apalagi oleh orang yang berbeda agama.

“Menjadi orang yang saleh, menjalankan agama dengan segala simbolnya, sesungguhnya sama dengan mengamalkan Pancasila, sila Ketuhanan Yang Maha Esa," tegasnya. "Kalau rajin mengaji, rajin sembahyang, menampilkan simbol beragama disebut radikal, itu sama artinya dengan mengatakan yang mengamalkan Pancasila adalah radikal."

Lebih lanjut, ia mengatakan jika mahasiswa STAN banyak yang berafiliasi dengan masjid kampus dan meneruskan kebiasaan di kantor ketika sudah bekerja. Banyak di antaranya yang melakukan itu untuk menjaga integritas agar tidak larut dengan praktik korupsi dan suap-menyuap.

Menurutnya, menjaga integritas dalam alam seperti sekarang memang memerlukan keteguhan sikap. Pasalnya, saat ini banyak pihak yang dicap radikal karena bicara kebenaran dan idealisme. “KPK saja distempel radikal. Pertanyaanya, apakah negara mau melegitimasi tuduhan seperti itu. Padahal keteguhan menjaga prinsip itu dianjurkan oleh ajaran Pancasila,” jelasnya.

Sudirman berharap moratorium belum menjadi keputusan final. Karena lulusan STAN terbukti banyak diperlukan oleh berbagai lembaga, baik pemerintah maupun swasta.

Sebelumnya, keputusan penutupan pendaftaran tersebut telah disampaikan dalam Siaran Pers Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan No. SP - XX/KLI/2020 berjudul "Penundaan SPMB PKN STAN Tahun 2020". Keputusan ini diambil karena Indonesia kini masih dilanda oleh pandemi corona (COVID-19).

Sehingga tes seleksi STAN tidak dapat dilaksanakan dengan efektif. Pasalnya, rata-rata jumlah peserta yang mendaftarkan diri di STAN mencapai ratusan ribu orang.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts