Alat Rapid Test Sudah Dikembangkan, Industri RI Masih Maju Mundur Buat Produksi
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Menristek Bambang PS Brodjonegoro menyebut industri dalam negeri masih belum mampu memprediksi risiko jika memproduksi alat tersebut dalam jumlah besar.

WowKeren - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mengakui jika kapasitas industri lokal masih terbatas dalam memproduksi alat rapid test.

Bambang menyebut jika alat rapid test sendiri sudah dikembangkan. Namun permasalahan yang terjadi adalah sulitnya mencari mitra industri yang mau mengembangkan rapid test dalam jumlah besar.


"Rapid test (alat tes diagnostik cepat) sudah dikembangkan tapi memang kapasitas industri masih terbatas," kata Bambang dilansir Antara, Sabtu (11/7). "Dan tidak mudah juga mencari mitra industri yang mau mengembangkan rapid test skala besar karena mereka harus melakukan investasi baru."

Lebih jauh, Bambang menyebut jika permintaan akan alat tes diagnostik cepat untuk mendeteksi penularan virus corona penyebab COVID-19 saat ini sangat besar. Namun sayangnya, industri dalam negeri belum siap untuk itu.

Bukan tanpa alasan, mereka masih belum mampu memprediksi risiko jika memproduksi alat tersebut dalam jumlah besar. Sebab, tahapan produksi seperti ini belum pernah mereka lakukan sebelum-sebelumnya.

"Industri yang ada masih maju mundur," terang Bambang. "Karena masih belum bisa menakar risiko kalau mereka benar-benar masuk ke (produksi alat) rapid test yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan."

Untuk itu, Kementerian Riset dan Teknologi terus berupaya untuk menjalin komunikasi dengan industri. Hal itu untuk memastikan hilirisasi produk inovasi atau hasil riset karya anak bangsa bisa berjalan mulus.

"Paling tidak kalau memang bidangnya baru kita ingin dari awal apakah BUMN atau Kementerian Perindustrian bisa membantu kita," lanjut Bambang. "Mencarikan siapa kira-kira mitra yang mampu untuk bekerja sama dengan peneliti."

Sementara itu selama ini Indonesia memenuhi kebutuhan alat rapid test yang sangat besar dengan mendatangkannya dari luar negeri. "Sehingga wajar sekali kalau ada industri alkes pun itu skala kecil, kalau mencari skala besar belum ada," katanya.

Presiden Joko Widodo sebelumnya menyebut jika Indonesia tak perlu lagi mengimpor alat rapid test. Sebab alat tersebut mampu diproduksi dalam negeri.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts