Muncul Virus Mematikan SFTS di Tiongkok, Disebabkan Oleh Serangga Ini
Dunia

Otoritas Kesehatan Tiongkok mengumumkan kemunculan penyakit Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS). Penyakit ini telah menyebabkan lima orang meninggal dunia dan 23 orang lainnya di rawat di rumah sakit.

WowKeren - Beberapa waktu lalu, publik sempat dihebohkan dengan pemuan peneliti Tiongkok yang melaporkan adanya flu babi jenis baru yang dinamakan G4 E4 H1N1. Namun, para peneliti akhirnya mengklaim jika flu babi ini tak akan menjadi pandemi baru setelah virus corona (COVID-19).

Kekinian, Otoritas Kesehatan Tiongkok mengumumkan kemunculan penyakit baru yang menyebabkan demam parah bernama Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS). Penyakit SFTS diketahui ditularkan lewat gigitan kutu.


Penyakit SFTS sendiri telah menyebabkan lima orang meninggal dunia dan 23 orang lainnya di rawat di rumah sakit sejak April 2020 lalu. Menurut pejabat kesehatan Tiongkok, pasien meninggal dan yang dirawat di rumah sakit wilayah Jinzhai, semuanya berasal dari Provinsi Anhui.

Juru bicara pemerintah Tiongkok, komisi kesehatan kota Lu'an, Provinsi Anhui, membenarkan laporan penyakit SFTS ini pada Jumat (10/7) malam. Laporan dari otoritas kesehatan tersebut menepis desas-desus bahwa kematian itu disebabkan oleh demam berdarah.

Sebelumnya, rumor yang beredar di internet mengatakan kasus kematian di Jinzhai diakibatkan oleh demam berdarah yang juga disebarkan oleh serangga. "SFTS yang disebabkan oleh gigitan kutu adalah penyakit epidemi baru yang berasal dari alam yang telah muncul di beberapa wilayah Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir," kata laporan tersebut dilansir India Today. "Penyakit ini menginduksi gejala seperti demam berat, trombositopenia, mual, dan muntah, mirip dengan gejala demam berdarah."

Seorang staf pengontrol penyakit dari komisi kesehatan Lu'an mengatakan, Lu'an adalah daerah pegunungan dengan para penduduk desa yang bekerja di ladang sering digigit oleh kutu dan lintah. Orang yang rentan terhadap gigitan serangga lebih mungkin terserang penyakit yang ditularkan serangga.

Penyakit ini disebabkan oleh novel bunyavirus yang baru, yang disebarkan oleh kutu. Pasien yang terinfeksi novel bunyavirus dapat menyebarkan virus ke orang lain. Selain itu, darah mayat pasien dan lendir darahnya juga dapat menular penyakit.

Pihak berwenang mengingatkan masyarakat setempat bahwa gigitan kutu juga menyebarkan penyakit radang otak dan demam berdarah. Penyakit SFTS bukan pertama kalinya muncul di Tiongkok.

Menurut laporan Global Times, ada makalah penelitian yang menunjukkan bahwa Tiongkok telah melihat kasus serupa pada 2011 lalu. Sebuah studi yang diterbitkan di Nature edisi 2019 lalu mengatakan, antara 2011 dan 2016, ada total 5.360 kasus SFTS yang dikonfirmasi laboratorium di Tiongkok.

"Sebagian besar kasus SFTS terjadi pada individu yang berusia antara 40 tahun dan 80 tahun (91,57 persen)," kata laporan tersebut. "Jumlah negara yang terkena dampak dari 2011 hingga 2016 meningkat tajam dari 98 menjadi 167."

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) Amerika Serikat telah mencatat bahwa SFTS telah diidentifikasi di China, Korea Selatan, dan Jepang sejak 2009. CDC menemukan bukti retrospektif infeksi virus SFTS (SFTSV) di Vietnam.

SFTS memiliki gejala utama seperti demam yang sangat tinggi, serta penurunan trombosit darah yang menyebabkan pendarahan jaringan, memar, dan memperlambat pembekuan darah. Menurut studi terbarunya belum lama ini, tingkat kematian untuk SFTS di Korea Selatan mencapai 47,2 persen. Saat ini belum ada pengobatan atau vaksin yang tersedia.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts