Rusia Soal Polemik Hagia Sophia yang Kembali Difungsikan Jadi Masjid: Itu Urusan Turki
Getty Images
Dunia

Hingga kini keputusan pemerintah Turki dan Presiden Erdogan untuk memfungsikan kembali Hagia Sophia menjadi masjid memang masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan publik.

WowKeren - Pemerintah Rusia menyatakan keputusan Presiden Erdogan untuk kembali memfungsikan Hagia Sophia di Istanbul sebagai masjid adalah urusan dalam negeri Turki. Seperti yang diketahui, hingga kini keputusan tersebut memang masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan publik.

"Kami melanjutkan dari fakta bahwa ini adalah urusan dalam negeri Turki yang mana kami ataupun pihak lain tidak boleh ikut campur," kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Vershinin, di Moskow.


Vershinin hanya menekankan bagaimanapun juga Hagia Sophia adalah bangunan yang penting bagi peradaban dunia. Kendati demikian, pernyataan Vershinin bertolak belakang dengan Gereja Kristen Ortodoks Rusia. Pihak gereja menyatakan sangat kecewa dengan keputusan Turki.

"Keprihatinan jutaan umat Kristen tidak didengar," kata juru bicara Gereja Ortodoks Rusia, Vladimir Legoida.

Komentar Vladimir Legoida tersebut menyusul beberapa pemimpin Kristen lainnya yang sudah menentang keputusan Turki. mereka menggambarkan keputusan tersebut sebagai "pukulan bagi Kekristenan global". Dewan Gereja Dunia, yang mewakili 350 gereja Kristen, mengatakan telah menulis kepada Erdogan untuk mengungkapkan "kesedihan dan kecemasan" mereka.

Di sisi lain, pada 10 Juli lalu Erdogan mengeluarkan keputusan terkait memfungsikan kembali Hagia Sophia yang berada di Istanbul sebagai masjid. Pengumuman Erdogan disampaikan setelah Majelis Negara Turki mengumumkan membatalkan keputusan kabinet pada 1934 dan kembali memfungsikan Hagia Sophia menjadi masjid.

Majelis Negara Turki pada 2 Juli lalu menggelar sidang dengar pendapat dengan Asosiasi Perlindungan Monumen Bersejarah dan Lingkungan Turki soal usul untuk kembali memfungsikan Hagia Sophia sebagai masjid. Selama ini, Hagia Sophia memang berstatus menjadi museum sejak beberapa dekade silam.

Keputusan ini menuai kekecewaan dari beberapa negara. Bahkan, Badan Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pun telah melayangkan protes resmi atas alih fungsi Hagia Sophia menjadi masjid, terutama karena pemerintah Turki tidak mengomunikasikan hal itu sebelumnya.

Kendati demikian, Erdogan mengatakan warga bisa melakukan ibadah di Hagia Sophia mulai 24 Juli mendatang. Meski begitu, Erdogan memastikan Hagia Sophia tetap terbuka untuk umum.

Sebagai informasi tambahan, di zaman Kekaisaran Byzantium, Hagia Sophia awalnya merupakan sebuah gereja. Ketika Sultan Muhammad al Fatih (Mehmed II) merebut Konstantinopel (Istanbul) dari kekuasaan Kekaisaran Byzantium pada 1453, dia mengubah bangunan itu menjadi masjid.

Setelah Kekhalifahan Ottoman runtuh dan berganti dengan Republik Turki yang sekuler, Hagia Sophia tak lagi difungsikan sebagai tempat ibadah. Pemerintah Turki di bawah kepemimpinan mendiang Presiden Mustafa Kemal yang beraliran nasionalis sekuler secara resmi memutuskan menjadikan bangunan itu menjadi museum yang menampilkan desain tempat ibadah dua agama.

Kegiatan keagamaan, seperti salat berjamaah atau membaca Alquran yang dilakukan di tempat itu kerap membuat umat Islam dan Kristen berselisih. Sedangkan kalangan sekuler menyatakan Hagia Sophia boleh didatangi seluruh umat beragama. Baik untuk sekedar berdoa atau menikmati keindahan bangunannya.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts