Duh Miris, Limbah Masker Sekali Pakai Banyak Ditemukan di Kali Hingga Gunung
Pixabay
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai Ciliwung, limbah medis ini sangat membahayakan karena justru akan memperluas rantai penyebaran COVID-19.

WowKeren - Menyebarnya pandemi COVID-19 turut membawa dampak bagi lingkungan. Misalnya limbah COVID-19 seperti masker sekali pakai yang dibuang sembarangan.

Kelompok Komunitas Peduli Ciliwung menemukan jika limbah medis seperti masker sekali pakai masih banyak ditemukan di Sungai Ciliwung. Relawan Komunitas Peduli Ciliwung Suparno Jumar menyebut jika sampah ini baru terlihat sejak musim pandemi.

Padahal, limbah masker yang dibuang sembarangan justru akan memperluas rantai penyebaran COVID-19. Ia pun menyoroti kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kondisi lingkungannya. Meningkatnya limbah medis seharusnya dibarengi dengan pengelolaan yang efektif.

"Sekarang banyak sampah (limbah medis), contohnya masker sekali pakai N95. Lagi-lagi kita selalu tidak siap dan tidak melihat lingkungan sekitar, terutama keselamatan banyak orang," kata dia dilansir Republika, Jumat (24/7). "Ini berpotensi menimbulkan mata rantai penyebaran virus atau penyakit."


Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai Ciliwung, tentu saja limbah medis ini sangat membahayakan. Sebab bisa saja kandungan berbahaya pada masker turut mencemari aliran sungai. Suparno bahkan mengaku kaget ketika ia menemukan limbah masker sekali pakai saat bertandang ke hulu sungai yang berada di bukit.

"Saya ke hulu sungai, saya kaget," ujarnya. "Masker sekali pakai ditemukan di gunung di jalur wisata alam."

Lebih lanjut, ia memaparkan jika masalah utama yang mendasari banyaknya limbah medis sekali pakai adalah karena masih rendahnya kesadaran masyarakat. Kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya masih rendah. Selain itu juga limbah yang tergolong bahan berbahaya beracun (B3) ini belum dipahami secara luas dan seolah masih dianggap sebagai sampah biasa.

"Kita ngawur menganggap semua sampah sama," tuturnya. "Intinya kita belum selesai di level paling hulu, darimana sampah berasal."

Oleh sebab itu, ia mendorong agar pemerintah bisa mengambil langkah persuasif untuk menangani limbah medis. Terutama limbah yang berbahaya seperti sampah B3. "Monitoring dan evaluasi perkembangannya harusnya tidak dianggap remeh," ujarnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts