Jawaban Pakar Soal Konspirasi Uji Klinis Vaksin Corona Tiongkok di Indonesia
Reuters/Bing Guan
Nasional
Vaksin COVID-19

Ahli biologi molekuler, Ahmad Utomo, lantas menjawab dugaan konspirasi terkait vaksin COVID-19 produksi perusahaan Tiongkok, Sinovac, yang akan diuji klinis di Indonesia.

WowKeren - Perusahaan Tiongkok, Sinovac, diketahui akan melaksanakan uji klinis tahap III terhadap vaksin COVID-19 di Indonesia. Tak pelak, langkah tersebut menimbulkan anggapan yang menilai jika Indonesia digunakan sebagai "kelinci percobaan" untuk vaksin tersebut.

Ahli biologi molekuler, Ahmad Utomo, lantas menjawab dugaan konspirasi terkait vaksin COVID-19 Sinovac tersebut melalui unggahan videonya di media sosial. Ahmad mengaku sebagai peneliti dan konsultan independen yang tidak terkait dengan produsen vaksin mana pun.


Menurut Ahmad, vaksin Sinovac sudah tepat untuk diuji klinis di Indonesia. Ia juga yakin bahwa Indonesia bukan "kelinci percobaan" Tiongkok merujuk pada tuntutan standar transparansi tinggi jika suatu farmasi ingin memproduksi vaksin.

"Prosedur pengadaan vaksin sekarang memang harus transparan," terang Ahmad dilansir Republika pada Selasa (28/7). "Untuk bohong itu sekarang sulit."

Menurut Ahmad, tahap uji klinis tahap I dan II vaksin Sinovac telah dipublikasikan di Sains Magazine. Dengan demikian, Ahmad menilai reputasi vaksin Sinovac tersebut telah aman untuk uji tahap III kepada lebih banyak spesimen.

Terkait kecocokan spesimen Tiongkok dan Indonesia, Ahmad menjelaskan bahwa tak ada perbedaan. Menurut Ahmad, para ahli dunia juga telah sepakat bahwa tidak ada mutasi virus SARS-Cov-2 penyebab COVID-19 yang kentara. "Di tahap pertama dan kedua uji klinis, mereka mencari sisi keamanan dan sisi dosis yang pas," jelas Ahmad.

Lebih lanjut, Ahmad juga menilai Indonesia dipilih menjadi lokasi untuk uji klinis tahap III lantaran penularan kasus COVID-19 di Tanah Air masih tinggi. Indonesia dinilai cocok dijadikan lokasi uji klinis terakhir sebagai penentu apakah vaksin ini akan bisa diproduksi secara masif apa tidak.

"Karena China sudah tidak lagi menjadi hot zone," ungkap Ahmad. "Di sana (Tiongkok) sempat ada puluhan kasus di Beijing dan langsung lockdown lagi."

Dalam uji klinis tahap III ini, vaksin yang telah menghasilkan antibodi dan respon imun itu diperdalam. Utamanya, untuk menggeneralisir kembali dari tahap sebelumnya.

"Unpad dan Biofarma akan mengorganisir uji klinis itu. Dan sebelum diberi ke masyarakat, akan diuji pada tahap tiga di Indonesia selaku hot zone," pungkas Ahmad. "Amerika saat ini sedang mencari vaksin juga, tapi mereka tidak uji coba ke luar negaranya. Karena secara logika, di sana masih hot zone, jadi tes pada spesimen dalam negeri."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts