Heboh ‘Fetish Kain Jarik’, Waspada Jenis Penyimpangan Seksual Ini
SerbaSerbi

Heboh soal Gilang predator ‘Fetish Kain Jarik’ di media sosial. Psikolog lantas menjelaskan mengenai penyimpangan seksual bernama fetishtic disorder yang patut diwaspadai.

WowKeren - Media sosial sedang dihebohkan dengan nama Gilang yang merupakan pelaku penyimpangan seksual ‘Fetish Kain Jarik’. Aksi predator Gilang kemudian dibongkar oleh salah satu korbannya dan publik sepakat menyimpulkan jika Gilang memiliki fetish terhadap orang yang dibungkus dengan kain jarik.

Dilansir dari Web MD, fetish merupakan suatu dorongan seksual yang dialami seseorang terhadap benda mati. Seseorang dengan fetish biasa akan mudah menjadi terangsang secara seksual saat memakai atau menyentuh objek yang disukainya. Dalam hal ini, objek bisa berupa pakaian dalam, sepatu wanita, lingerie, atau dalam kasus Gilang berupa orang yang dibungkus kain jarik.


Selain itu, dorongan seksual lain yang masuk dalam fetish disebut parsialisme. Dorongan seksual parsialisme sendiri merupakan fetish yang melibatkan gairah seksual oleh bagian tubuh, seperti kaki, payudara, atau pantat.

”Fetish adalah ketika seseorang merasakan rangsangan seksual dari fantasi atau perilaku seksual yang melibatkan nonliving objects,” jelas psikolog Inez Kristianti M.Psi seperti dilansir dari Suara, Kamis (30/7). “Misal sepatu, celana dalam, bra, atau bagian tubuh nongenital bisa itu rambut, hingga kaki.”

Inez mengungkapkan jika hampir semua orang biasanya memiliki fetish masing-masing, yakni bagian tubuh yang dianggap paling menarik. Oleh sebab itu, tidak semua fetish merupakan sebuah gangguan seksual. Menurutnya, setiap orang memang berhak untuk berimajinasi. Namun, tak semua imajinasi tersebut patut diwujudkan secara nyata apalagi jika merugikan orang lain.

Please note juga, kalau sebagian dari kita mungkin punya ‘fetish’ masing-masing,” jelas Inez. “Hampir semua orang punya particular body parts yang dia anggap atraktif, ada yang kaki hingga ketiak.”

”Tapi apakah itu gangguan? Belum tentu,” sambungnya. “Jadi gangguan kalau fetishticnya itu udah mengganggu fungsi normal seksual. Misal nggak ada objek yang ia sukai itu, dia nggak bisa terangsang, itu termasuk gangguan.”

Dilansir dari Tirto, orang yang memiliki fetish biasanya memegang, menggosok, mengecap, atau mencium benda fetish untuk kepuasan seksual. Selain itu, orang yang memiliki fetish juga biasanya meminta pasangannya untuk mengenakan objek tersebut selama aktivitas seksual.

Fetish dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yakni bentuk fetish dan media fetish. Dalam bentuk fetish, bentuk benda itu penting, seperti sepatu hak tinggi. Dalam fetish media, bahan dari objek, seperti sutra atau kulit, adalah penting. Biasanya orang dengan fetish sering mengumpulkan objek yang mereka sukai.

Sementara itu, orang yang memiliki kondisi di mana terus bergantung terus-menerus atau berulang pada objek yang tidak hidup atau fokus yang sangat spesifik pada bagian tubuh untuk mencapai gairah seksual biasa disebut fetishtic disorder (fetisisme). Penyebabnya bisa karena ada stres, tekanan, atau gangguan dalam bidang sosial, pekerjaan, dan bidang fungsi penting lainnya.

Dilansir Psychology Today, gangguan fetisisme biasanya lebih umum dialami oleh pria ketimbang wanita. Bahkan, penelitian menunjukkan jika gangguan ini muncul hampir secara khusus pada pria.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts