Bukan Virus, Ilmuwan Sebut Polusi Udara Jadi Risiko Terbesar Kesehatan Manusia
Dunia
Pandemi Virus Corona

Menurut data para pakar, virus bukanlah risiko terbesar bagi kesehatan manusia, melainkan polusi udara yang dapat mengurangi harapan hidup di Bumi hampir dua tahun.

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) menjadi momok yang mengerikan bagi umat manusia saat ini. Pasalnya, virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, Tiongkok, itu telah menginfeksi lebih dari 17 juta orang dan telah membunuh lebih dari 670.463.

Namun, data pakar menunjukkan virus bukanlah risiko terbesar bagi kesehatan manusia, melainkan polusi udara yang mengurangi harapan hidup di Bumi hampir dua tahun. Air Quality Life Index (AQLI) menyebut bahwa polusi udara akan terus menyebabkan miliaran orang di seluruh dunia menjalani hidup lebih pendek dan rentan terkena penyakit.


Indeks polusi udara partikulat berdampak terhadap kesehatan manusia. Meskipun ada pengurangan signifikan dalam hal partikel di Tiongkok, yang pernah menjadi salah satu negara paling tercemar di dunia, tingkat polusi udara secara keseluruhan tetap stabil selama dua dekade terakhir.

Di negara-negara seperti India dan Bangladesh, polusi udara sangat parah sehingga kini mengurangi rentang hidup atau usia rata-rata di beberapa daerah, hampir satu dekade. Penulis penelitian ini mengatakan kualitas udara yang dihirup banyak manusia merupakan risiko kesehatan yang jauh lebih tinggi daripada COVID-19.

"Meskipun ancaman COVID-19 sangat serius dan patut mendapatkan perhatian, memperlakukan polusi udara dengan tingkat keseriusan yang sama akan memungkinkan miliaran orang menjalani hidup lebih lama dan lebih sehat," kata Michael Greenstone, pencipta AQLI dilansir Science Alert.

Polusi partikulat juga merupakan "keprihatinan signifikan" di seluruh Asia Tenggara, di mana kebakaran hutan dan tanaman serta lalu lintas yang padat ditambah uap pembangkit listrik menjadi kolaborasi pas untuk menciptakan udara beracun.

Sekitar 89 persen dari 650 juta penduduk di wilayah itu tinggal di daerah, di mana polusi udara melebihi pedoman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sementara negara-negara seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang telah berhasil meningkatkan kualitas udara.

Menurut AQLI, Bangladesh memiliki kualitas udara terburuk dari negara manapun dan rata-rata sekitar 250 juta penduduk di negara bagian India utara akan kehilangan delapan tahun kesempatan hidup, kecuali jika polusi dikendalikan. Beberapa penelitian menunjukkan paparan polusi udara juga merupakan faktor risiko COVID-19 utama dan Greenstone mendesak pemerintah untuk memprioritaskan kualitas udara setelah pandemi.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts