Siap Diuji Klinis, Bagaimana Status Halal Vaksin Corona Asal Tiongkok?
Getty Images
Nasional
Vaksin COVID-19

Perusahaan bioteknologi Sinovac asal Tiongkok akan melakukan uji klinis fase III vaksin COVID-19 yang ia kembangkan di Indonesia mulai Agustus mendatang. Lantas bagaimana status halal vaksin tersebut?

WowKeren - Indonesia akan menyambut uji klinis fase III vaksin antivirus Corona pada Agustus 2020 mendatang. Vaksin ini sendiri diketahui dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Sinovac dari Tiongkok yang bekerja sama dengan BUMN Bio Farma.

Beragam pertanyaan soal vaksin ini pun muncul, termasuk terkait bagaimana status halal produk kesehatan tersebut. Menteri Riset dan Teknologi atau Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro pun membocorkan status halal yang ternyata ditentukan dalam dua tahap.


"Tentunya ada dua tahap (penentuan halal atau tidaknya vaksin)," kata Bambang yang ditemui di Jalan Pasteur, Sukajadi, Kota Bandung, Rabu (29/7). "Di tahap pengembangan atau risetnya dan nanti tahap produksi."

Kendati demikian, Bambang menegaskan Bio Farma selaku perusahaan yang "mendatangkan" vaksin Sinovac itu tentu sudah mengkaji soal halal atau tidaknya produk yang bersangkutan. "Bio Farma sudah punya pengalaman panjang untuk mendapatkan status tersebut dari Dewan Syariah atau Dewan MUI," ujar Bambang, seperti dilansir Detik Health, Kamis (30/7).

Namun Bambang juga menegaskan status vaksin Merah Putih yang dikembangkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman sudah dipastikan halal. Pasalnya setiap bahan yang dipakai hingga produksi dan pengembangannya semua sudah dikonsultasikan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

"Kalau dari kami iya (halal)," terang Bambang. "Lembaga Eijkman sejak awal berkonsultasi dengan MUI mengenai apa saja yang harus dipenuhi bisa memenuhi syarat panjang agar halal."

Terkait dengan perbedaan antara kedua jenis vaksin, rupanya terletak pada bahan utamanya. Vaksin yang dikembangkan Sinovac berasal dari virus yang sudah diinaktivasi, sementara untuk vaksin Merah Putih dari platform protein rekombinan.

"Ternyata Bio Farma punya kemampuan untuk mengerjakan berbagai platform," jelas Bambang, merujuk pada Bio Farma yang juga akan memproduksi massal vaksin Sinovac apabila hasil uji klinisnya sesuai standar. Sedianya untuk vaksin Merah Putih sendiri akan diproduksi sebanyak 250 juta dus.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, menyatakan vaksin Merah Putih akan memulai uji klinisnya pada 2021 mendatang. "Kalau lancar itu semuanya, mudah-mudahan awal tahun 2022 kita mungkin sudah bisa memproduksi vaksin Merah Putih," tegas Honesti.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts