Upaya Iran Tutupi Angka Kematian COVID-19 Terungkap
Mizan News Agency via AP/Mohammad Mohsenzadeh
Dunia
Pandemi Virus Corona

Menurut data yang diterima oleh media BBC, terungkap jika jumlah kematian akibat virus corona (COVID-19) di Iran mencapai hampir tiga kali lipat dari angka yang diklaim pemerintah.

WowKeren - Kematian akibat virus corona (COVID-19) terus meningkat tiap harinya. Menurut data worldofmeter, tercatat 692.794 orang yang meninggal akibat COVID-19 sejak pandemi dimulai Januari lalu.

Namun, baru-baru ini BBC Persia mengungkap jumlah kematian akibat virus corona di Iran mencapai hampir tiga kali lipat dari angka yang diklaim pemerintah. Merujuk catatan pemerintah Iran, hampir 42.000 orang meninggal dengan gejala COVID-19 hingga 20 Juli. Angka ini jauh lebih banyak ketimbang jumlah kematian yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan, yakni 14.405 orang.

Jumlah orang yang diketahui terpapar virus corona juga hampir dua kali lipat angka resmi, yakni 451.024. Sementara data Kementerian Kesehatan hanya mencatat 278.827 orang. Iran menjadi salah satu negara yang paling terdampak pandemi COVID-19 di luar Tiongkok.

Kematian pertama akibat COVID-19 di Iran tercatat pada 22 Januari, menurut daftar dan catatan medis yang telah disampaikan kepada BBC. Peristiwa ini terjadi hampir sebulan sebelum kasus pertama dilaporkan secara resmi oleh pemerintah Iran.

Sejak wabah virus corona melanda Iran, banyak peneliti meragukan data resmi pemerintah. Terdapat perbedaaan data pemerintah pusat dan pemerintah daerah, yang diungkapkan beberapa otoritas lokal, dan para ahli statistik telah mencoba memberikan perkiraan alternatif.

Tingkat penghitungan yang rendah, sebagian besar disebabkan oleh kapasitas pengujian, terlihat di seluruh dunia, tetapi informasi yang bocor ke BBC mengungkapkan pihak berwenang Iran telah melaporkan angka harian yang jauh lebih rendah meskipun memiliki catatan semua kematian - menunjukkan bahwa angka-angka tersebut sengaja ditekan.


Data tersebut termasuk rincian penerimaan harian ke rumah sakit di seluruh Iran, termasuk nama, usia, jenis kelamin, gejala, tanggal dan lama periode yang dihabiskan di rumah sakit, serta kondisi mendasar yang mungkin dimiliki pasien. Sumber tersebut mengatakan membagikan data ini kepada BBC agar memberi "cahaya akan kebenaran" dan mengakhiri "permainan politik" selama pandemi.

Perbedaan antara angka resmi dan jumlah kematian pada catatan ini juga cocok dengan perbedaan antara angka resmi dan perhitungan kelebihan angka kematian hingga pertengahan Juni. Kelebihan kematian mengacu pada jumlah kematian di atas dan di luar apa yang diharapkan dalam kondisi "normal".

Sementara itu, Teheran yang merupakan Ibu Kota Iran mencatat angka kematian tertinggi dengan 8.120 orang meninggal dunia dengan gejala COVID-19 atau yang menyerupai. Sedangkan Kota Qom yang menjadi lokasi pusat penyebaran virus corona di Iran, telah terdampak secara signifikan, dengan 1.419 kematian - itu berarti satu kematian akibat COVID-19 dari 1.000 populasi penduduk.

Perlu dicatat bahwa, di seluruh negeri, 1.916 kematian adalah warga negara non-Iran. Ini menunjukkan jumlah kematian yang tidak proporsional di antara migran dan pengungsi, yang sebagian besar berasal dari negara tetangga Afghanistan.

Tren keseluruhan kasus dan kematian dalam data yang bocor ini mirip dengan laporan resmi, meskipun ukurannya berbeda. Peningkatan awal kematian jauh lebih tinggi dari angka Kementerian Kesehatan dan pada pertengahan Maret, atau lima kali lipat dari angka resmi.

Lalu karantina wilayah atau lockdown diberlakukan selama liburan Nowruz (Tahun Baru Iran) pada akhir pekan ketiga bulan Maret, dan ada penurunan kasus dan kematian yang sesuai. Akan tetapi, setelah pembatasan pemerintah dilonggarkan, kasus dan kematian mulai meningkat lagi sejak akhir Mei.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts