Terungkap, Ini Profesi Yang Paling ‘Hobi’ Sebarkan Berita Palsu Soal Corona
Pixabay
Dunia
Pandemi Virus Corona

Peneliti dari Inggris membongkar sejumlah profesi yang biasanya kerap terlibat dalam menyebarkan informasi salah seputar virus corona selama pandemi. Apa saja?

WowKeren - Berbagai informasi salah atau berita palsu seputar virus corona (COVID-19) masih terus terjadi selama pandemi. Peneliti dari Inggris lantas membongkar sejumlah profesi yang dinilai paling banyak melakukan penyebaran informasi keliru atau berita salah seputar pandemi virus corona.

Dilansir dari Reuters Institute, peneliti dari Oxford University menyatakan jika orang yang berprofesi sebagai politisi, selebriti, dan influencer menjadi pihak yang paling kerap memberikan informasi salah seputar COVID-19. Hasil ini didapatkan setelah para peneliti melakukan penelitian dan menerbitkannya pada April lalu.

Dalam laporan mereka, peneliti menemukan sebanyak 20 persen dari tokoh publik, selebriti, dan politisi bertanggung jawab atas klaim palsu mengenai virus corona. Bahkan, 69 persen dari klaim mereka beredar di media sosial.

”Mereka memiliki jangkauan yang luas untuk konten yang akan mereka sebarkan,” kata Peneliti dari Reuters Institute, Scott Brennen seperti dilansir dari The Guardian, beberapa waktu lalu. “Klaim paling umum berkaitan dengan kebijakan publik, meski kami juga melihat banyak informasi yang salah soal informasi kesehatan (mengenai COVID-19).”


Salah satu contohnya adalah terkait munculnya teori konspirasi bahwa jaringan 5G berkontribusi terhadap penyebaran virus corona. Meski para ahli telah menegaskan jika teori tersebut tidak benar, namun banyak public figure yang tetap mempercayainya.

Diantaranya adalah aktor Hollywood, Woddy Harrelson dan juga rapper MIA. Mereka sempat ikut membagikan postingan mengenai kecurigaan soal penyebaran virus corona di akun media sosial. Namun, postingan itu juga akhirnya mereka hapus lantaran tidak terbukti benar.

Sedangkan contoh di dunia politik, klaim palsu seputar virus corona ini datang dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Presiden Trump dinilai para peneliti menjadi contoh paling besar yang membuktikan jika politisi kerap memegang pengaruh tinggi terkait berita palsu virus corona.

Oleh sebab itu, peneliti di Reuters Institute memberi peringatan kepada para public figure untuk tidak meremehkan hal ini, khususnya jika ingin memberikan informasi ke masyarakat. Pasalnya, mereka dinilai memiliki suara yang kuat dan peran besar dalam memberikan informasi yang bisa dipercaya publik sepenuhnya.

Saat ini, sejumlah perusahaan-perusahaan teknologi telah berusaha menindak penyebaran informasi yang dinilai menyesatkan seputar virus corona dari platform mereka. Perusahaan seperti Google, Facebook, Twitter, dan TikTok bahkan dengan berani memblokir postingan-postingan menyesatkan yang datang dari politisi, selebriti, hingga influencer.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts