ITB Ungkap Bahayanya Penyemprotan Disinfektan Untuk Tubuh Manusia
Health
COVID-19 di Indonesia

Salah satu upaya untuk mengantisipasi penularan virus corona yang kini kerap dilakukan di tengah masyarakat adalah penyemprotan disinfektan. Baik kepada lingkungan sekitar maupun tubuh manusia.

WowKeren - Pandemi corona (COVID-19) hingga kini masih melanda dan membuat resah warga. Salah satu upaya untuk mengantisipasi penularan virus corona di tengah masyarakat adalah penyemprotan disinfektan.

Penyemprotan disinfektan ini tidak hanya dilakukan ke lingkungan sekitar, namun juga ke tubuh manusia. Terkait hal ini, peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pun memperingatkan bahaya disinfektan.

"Disinfeksi didefinisikan sebagai penggunaan bahan-bahan kimia yang dapat membunuh kuman/mikroba (bakteri, fungi, dan virus) yang terdapat di permukaan benda mati (non-biologis, seperti pakaian, lantai, dinding)," demikian pernyataan ITB dilansir dari laman itb.ac.id pada Senin (3/8). "Efektivitas dari disinfektan dievaluasi berdasarkan waktu kontak atau 'wet time', yakni waktu yang dibutuhkan oleh disinfektan tersebut untuk tetap berada dalam bentuk cair/basah pada permukaan dan memberikan efek 'membunuh' kuman."

ITB juga mengungkapkan sejumlah kandungan dalam cairan disinfektan yang umum digunakan dalam bilik disinfeksi untuk manusia. Di antaranya adalah diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dioksida, etanol 70 persen, kloroksilenol, electrolyzed salt water, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), glutaraldehid, hidrogen peroksida (H2O2).


"World Health Organization (WHO) tidak menyarankan penggunaan alkohol dan klorin ke seluruh permukaan tubuh karena akan membahayakan pakaian dan membran mukosa tubuh seperti mata dan mulut," lanjut pernyataan tersebut. "Penelitian yang dipublikasikan pada JAMA Network Open Oktober 2019 menemukan bahwa sebanyak 73.262 perawat wanita yang rutin tiap minggu menggunakan disinfektan untuk membersihkan permukaan alat-alat medis berisiko lebih tinggi mengalami kerusakan paru-paru kronik."

Selain itu, ITB juga mengingatkan bahwa menghirup gas klorin dan klorin dioksida dapat mengakibatkan iritasi parah pada saluran pernapasan. "Penggunaan larutan hipoklorit pada konsentrasi rendah secara terus menerus dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan iritasi kulit dan kerusakan pada kulit. Dan penggunaannya pada konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan kulit terbakar parah," terangnya.

Untuk itu, ITB menyarankan untuk mengikuti anjuran WHO dalam antisipasi penularan COVID- 19. Yakni dengan rajin mencuci tangan dan menerapkan protokol jaga jarak.

"Solusi aman untuk pencegahan pemaparan virus SARS-CoV-2 saat ini sesuai rekomendasi WHO adalah dengan cuci tangan menggunakan sabun (minimal 20 detik)," demikian masukan ITB. "Mandi serta mengganti pakaian setelah melakukan aktivitas dari luar atau dari tempat yang terinfeksi tinggi, serta menerapkan physical distancing (minimal 1 meter)."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts